Yihaa…Liburan (Part 1)

Setelah melewati serangkaian proses diplomasi yang luar biasa, Ibu saya tercinta berhasil mengalahkan tembok kekuasaan Bapak saya. Akhirnya Ibu yang luar biasa ini bisa jalan-jalan ke jakarta, bukan berdiam di Banjarmasin. Sehari sebelum invasi Ibu ke rumah Cibubur, jadilah saya dan adek berjibaku membersihkan rumah yang cuma seminggu sekali dikunjungi ini. Ada 3 kamar mandi yang harus dibersihkan, seluruh ruangan lantai atas dan lantai bawah beruntung rumah saya tidak ada perabotannya jadi kali ini acara bersih-bersihnya tidak pakai ngelap perabot.

Mission cleared

Ibu datang bersama Wak (kakak Ibu dari Medan), adek laki-laki saya, dan seorang sepupu dari Banjarmasin. Saya tidak heran kalau Ibu datang membawa keberisikan, belum apa-apa sudah komentar beres-beresnya kurang rap, siapkan ini-itu untuk makan siang Bapak, beresin koper sama bawaan, entah yang mana dulu yang harus dikerjakan. Rasanya memang sangat terjajah dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi mau bagaimana lagi inilah yang saya rindukan dari seorang Ibu. Menjajah dengan cinta istilah saya. Semua rasa terjajah terbayar dengan senyum khas Ibu, masakan Ibu yang tiada duanya, dan kecerewetan yang dirindukan sekaligus dihindari. Ibu saya memang tiada duanya.

Cinta Sepanjang Masa

Kalau Kakek dan Nenek saya bisa awet sampai ujung hayat, sepertinya itu jualah yang akan terjadi pada Bapak dan Ibu saya. Ibu dan Bapak adalah pasangan yang unik menurut saya. Ibu tak jarang mengeluh soal Bapak padaku begitu juga Bapak, tapi ketika jauh tak kurang dari 3 kali sehari saling menelpon. Pernah suatu kali Bapak pergi ke Malaysia seminggu, tagihan handphone Bapak melonjak sampai menyentuh angka 4 dengan 6 buntut nol di belakangnya.

Continue reading

Koma

Saya sedang berduka, sangat dalam, atas komanya suami kedua saya. Tak ingat bagaimana kejadian tepatnya, ketika suami saya dalam kondisi kritis alat pacu jantungnya ternyata tidak lagi berada di dekatnya.

Sepertinya gaya bahasa di atas terlalu berlebihan sebaiknya saya ganti saja. Jadi begini pengunjung sekalian, sebagai pembuka, ada baiknya saya perkenalkan suami-suami saya. Laptop adalah suami kedua saya, suami pertama saya jelas handphone merk N 3230 yang katanya produk gagal (biar orang berkata apa bagiku kau segalanya…..Ooou I Love U Bibeh1).

Hari rabu lalu saya kehilangan charger laptop, bukan karena dimaling atau ditodong tengah jalan oleh perampok “Serahkan charger laptopmu, atau nyawamu melayang”2, semua sepenuhnya karena kemahatololan saya. Rabu ini saya memutuskan tidak kuliah karena lebih memilih mengerjakan laporan dengan baik dan benar tidak seperti 3 laporan sebelumnya. laporan baru selesai jam setengah 10, belum mandi, belum menyiapkan slide untuk presentasi jam 10. Saya mandi dengan gaya bebek, cepat-kilat. Slide belum selesai juga, jam setengah 11 kurang 10 saya berangkat dari kosan.

Sampailah saya di kampus dalam kurang dari 10 menit, dengan ojek3 tentunya (dari kosan ke pangkalan ojek butuh jalan kaki sekitar 7 menit). Keberuntungan saya ternyata belum habis, praktikum yang terkenal disiplin, ternyata belum mulai sampai jam 11 siang. Penyebabnya adalah peralatan presentasi belum siap pakai. Kelompok saya berada diurutan kelima, slide tetap masih belum selesai. Sambil memperhatikan kelompok lain presentasi, saya menyelesaikan slide. Ternyata waktu tidak memungkinkan, kelompok saya presentasinya ditunda sampai setelah ujian selesai (Hore…!!).

Selesai praktikum bagian 1 lanjut ke prakikum bagian 2, karena belum sholat saya ke mushola dulu sampai 1 jam kemudian. Saya SMS ke kakak kelas 1 kelompok saya ”Mbak praktikumnya udah bubar belum?”, beberapa menit kemudian saya mendapat balasannya ”udah bubar”. Bagaimana nasib saya karena tidak ikut praktikum? sampai saat ini saya belum tahu, mungkin akan saya dapatkan setelah ujian selesai.

Setelah itu saya mengumpulkan tugas, dan pergi ke dokter. Baru sampai di kosan teman -tempat tinggal sekarang- saya sadar kalau charger laptop saya sudah tidak ada. Mau dinyalakan takut baterainya habis, tidak dinyalakan saya sangat merindukan tatapan tajam matanya, merdu suaranya saat menyanyikan lagu yang saya sukai, kesetiannya menemani saya menonton film, menulis apapun dari tugas sampai proposal, dan banyak hal lain. Sampai saat ini, suami saya masih berada dalam keadaan koma, saya belum mampu menyadarkannya. Rencananya saya baru akan mencari charger baru bersama Bapak saya, setelah selesai ujian tengah semester yang hanya tinggal hitungan jam lagi. Untuk itu, saya perlu persiapan mental, demi mendengar semprotan Bapak saya yang sekian ratus kalinya4.

1Terima kasih pada Changcuters yang membantu saya merepresentasikan cinta tanpa syarat pada kedua suami saya hohoho….^^

2Hanya perampok yang otaknya berpindah ke dengkul yang memilih charger laptop dibandingkan laptopnya sendiri atau barang berharga lainnya.

3Mengingat setiap hari saya berangkat mepet dan setiap hari pula saya berangkat kuliah dengan ojek, saya kepikiran betapa enaknya kalo ada ojek pribadi halal lagi baik a.k.a suami beneran, berhubung saya cuma bisa mengendarai sepeda itupun kadang tanpa rem. Tapi sekali lagi rasional saya bermain untuk yang kesekian kalinya ”mau jadi apa tuh orang di tangan saya?”. Untuk itu, sekarang cukup sebagai lintasan pikiran saja sampai tiba masanya nanti.

4Bapak saya memang tukang semprot ulung, setiap kata tepat ke sasaran tembak tempat virus-virus kemahatololan saya bersemayam.

PS : Mohon doa untuk ujian tengah semester saya kali ini. Semoga hasilnya jauh lebih baik dibandingkan yang kemarin. Amin

Holiday Training Camping

Sebelum libur lebaran tiba, saya ditawari teman saya, Randi untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan yang diadakan oleh direktorat kemahasiswaan IPB. Pelatihan ini khusus diikut oleh pengurus lembaga kemahasiswaan kampus ataupun anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), syaratnya untuk mengikuti adalah mengirimkan riwayat hidup dan menuliskan essay tentang peran organisasi mahasiswa terhadap pembangunan pertanian Indonesia, tema tepatnya saya lupa. Pelatihan ini diadakan tanggal 18 dan 19 Oktober di Pasir Sarongge, Cipanas. Singkat cerita, yang mulanya saya ragu-ragu akhirnya saya ikut juga sekalian liburan singkat, sedangkan Randi sendiri harus rela tidak ikut karena ada acara wajib di Asramanya, kalau tidak ikut beasiswanya bisa dipotong beberapa persen.

Rombongan seharusnya berangkat dari kampus jam 7 pagi tapi karena pesertanya belum datang semua termasuk saya, rombongan baru berangkat jam setengah 8 pagi. Seperti yang telah saya duga sebelumnya, dari 21 orang peserta hanya 3 perempuan yang ikut sisanya sebagian besar para lelaki yang sebelumnya saya kenal dari Azka (saya bukan pengurus BEM TPB) sebagai pengurus BEM TPB (waktu saya tingkat satu dulu) dan sisanya ada yang kenal ada yang tidak kenal. Tidak terbayangkan bagaimana pelatihan tersebut berjalan, seperti kamp konsentrasikah? Atau akan menjadi kamp pelatihan yang membosankan? Atau menyenangkan? Tapi saya yakin ada sesuatu yang sama sekali baru buat saya.

Sampai di tempat jam setengah 11, saya beserta peserta lain tinggal di mess milik IPB, daerahnya lumayan jauh dari pusat kota Cianjur. Luar biasa lanskap daerahnya masih cukup alami, udaranya sejuk, pemandangan di depan mess sangat cantik, dengan gunung yang saya tak tau namanya, di bawahnya lahan pertanian dengan sungai kecil berair sejuk dan sangat bening mengalir sampai tak tau kemana. Bangunan messnya terbuat dari kayu, jadi sejuknya udara luar benar-benar bisa masuk ke dalam. Berhubung perempuan yang ikut dalam pelatihan cuma 3 orang jelas saya, Tina, dan Yu-as ditempatkan dalam satu kamar, yang nantinya 2 orang teman sekamar saya ini memberikan kesan yang dalam pada saya.

Ternyata anggapan saya tentang pelatihan yang seperti kamp konsentrasi ini benar-benar hilang, sampai di sana kami benar-benar disambut oleh pengurus mess. Tepat saat makan siang, hidangan yang memenuhi kriteria 4 sehat tersedia dengan cuma-cuma dan sekenyangnya, begitupun dengan hari berikutnya. Hari pertama dipenuhi dengan pemberian materi tentang kepemimpinan, kreativitas, dan renungan malam. Besoknya dilanjutkan dengan lintas alam, outbond, dan materi kepemimpinan bagian 2. Semua kegiatan yang dilakukan di camping Cianjur sangat berkesan bagi saya saking senangnya selama 2 hari satu malam saya tidak berhenti tersenyum. Di sana saya mendapatkan keberanian untuk mengalahkan ketakutan saya akan ketinggian selama ini, untuk pertama kalinya saya mencoba main flying fox. Saat naik pohon untuk meluncur dengan tidak sopannya teman saya berkomentar “Sumpah Phie, Gua kayak lagi nonton national geographic channel sesi panda lagi manjat pohon”. Komentarnya membuat saya tertawa sepanjang perjalanan ke puncak pohon. Perlu waktu yang lebih lama dari yang teman-teman saya yang lain untuk naik ke atas pohon, namun akhirnya saya berhasil naik ke pohon untuk meluncur dengan flying fox.

Materi kepemimpinan yang disampaikan di camp ini mungkin sudah banyak didengar, saya pun sering mendengarnya. Namun, selama ini terkikis oleh banyak hal sehingga membuat saya lupa. Dan di sana saya diingatkan kembali.

Di sana disampaikan bahwa bahagia benar-benar sepenuhnya keputusan kita, dalam keadaan seperti apapun kita bisa bahagia asal kita memilih untuk bahagia. Seperti kata bijaksana yang pernah terpampang pada majalah dinding fakultas saya ”Ya Allah, aku tak tahu kapan harus bersyukur dan bahagia?, Pada rasa sakitku kah? Atau pada rasa senangku? Jika pada sakitku aku bisa banyak berdzikir pada-Mu.

Benar sekali kawan! Bahagia adalah sebuah keputusan, keputusan dari satu-satunya pemain dalam hidupnya. Di hidup ini, hanya kita satu-satunya pemain dalam hidup kita. Orang tua, saudara, teman, dan banyak orang lain di sekitar kita hanyalah penonton mutlak. Sekeras apapun penonton bersorak untuk mendukung dan menjatuhkan hanya kita yang memutuskan kemana lagi kaki ini melangkah, terus majukah? Atau mundur secara perlahan-lahan? Hanya kita yang bisa memutuskan mau hidup seperti apa lagi kita?.  

Dan saya, saat camping kemarin saya memutuskan untuk sangat bahagia akan setiap hela napas dan setiap keputusan yang saya buat.

Enough

Halo-halo sodara!! Pasti merindukan saya (ngarep!! hahaha). Berikut ini laporan saya selama ngilang dari dunia perblogan, sampe blog saya jadi basi, sepi, ga ada yang ngunjungin, ga ada yang komen (T_T sedihnya)

Akhirnya, setelah sekian lama teracuni oleh aroma-aroma cendawan objek percobaan, korban mata yang bengkak ditambah demam sehari gara-gara serbuk biopestisida, tiba waktunya pengumuman…..Jreeeng..!!! penelitian saya dan teman-teman saya Cuma dapat peringkat ke 11 padahal yang diambil ke nasional cuma 5. Mau tau rasanya??? Nyesek….pengen nangis, tapi sepertinya saya ga secengeng itu. Sempet saya berpikir pengen taubatan nashuha buat ngajuin proposal penelitian, tapi setelah saya pikir-pikir lagi seorang scientist itu jangan mudah menyerah. Sekali gagal harus dicoba lagi. Tapi….Ga pake tapi-tapi!!!. Jadi sudah saya putuskan tahun ini harus bikin lagi!! Tapi……Idenya ga ada hahaha…..(ada yang punya ide??)

Imbas dari kebanyakan di lab buat running penelitian kuliah saya jadi keteteran semua nilainya jadi mikro (sama kayak semester kemaren), serasa saya ga punya muka di depan orang tua saya, untung belum tau, dan saya bertekad ga akan ngasih tau sampai transkrip semester 5 dibagiin (mulai aja belum). Semester ini, saya ditargetkan oleh pembimbing akademik (PA), IP saya harus menyentuh angka >3.5 fantastis buat orang seperti saya yang ber-IP 2.5 saja ga nyampe (parah bukan???). Akibat dari kemelorotan yang saya buat sendiri saya di sidang 1.5 jam di hadapan adek-adek kelas yang PA-nya bareng.

Bapak PA : Kamu!! gimana nilai kamu semester ini??

Ophie : Jelek pak….(Dengan tampang sedikit pucet, sambil dahi berkerut-kerut)

Bapak PA : Mau jadi apa kamu nilainya seperti itu??

Ophie : Mau jadi dosen, peneliti sama pengusaha pak (Kalo ini saya pasang

tampang PD hehe)

Bapak PA : Mana bisa kamu jadi dosen kalo nilainya gitu??? Dosen minimal harus

punya IPK 3.0

Ophie : Bisa Pak!! (Ngotot haha)

Bapak PA : kamu jadi orang jangan stubborn deh. Kamu bimbingan saya

yang pertama nilainya melorot begini, kamu mencemarkan nama baik saya

saja!. Kayaknya kalo nilai kamu masih seperti ini, saya mau tulis surat ke

departemen untuk mengundurkan diri jadi PA kamu.

Ophie : waduh pak…saya mau di lempar kemana?, bapak aja ga sanggup, apalagi

yang laen. Kalopun ada yang sanggup, belum tentu mau nerima mahasiswa

kayak saya

Bapak PA : OK!, kalo begitu minimal semester ini IP kamu harus 3.5!!

Ophie : (Mendadak dapat wangsit untuk minum obat mencret)

Adek2 kelas: ***diam seribu bahasa****

Hmmm….kira-kira begitulah sinopsis persidangan saya dengan PA saya, rekaman lengkapnya itu jadi folder rahasia di otak kanan saya. Kayaknya image saya sebagai kakak kelas yang mengayomi dan jadi teladan yang baik rontok berkeping-keping di mata mereka hehehe….

Berawal dari dua buah kegagalan di departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas peternakan Institut Pertanian Bogor, saya punya misi untuk menyudahi petualangan saya mencari puzzle diri dengan cara ekstrim. Semester 4 ini, pengalaman berurusan dengan dosen sudah sangat luar biasa. Suatu hari, tepat saat praktikum saya datang sebelum 15 menit lagi bubar, jelas itu artinya Sang Ibu Dosen Gondok ujung-ujungnya saya diusir (Sebuah pengalaman yang traumatis). Kedua saya dipanggil ke ruang dosen gara-gara nandatangani temen yang ga masuk, dosennya ngamuk-ngamuk tapi saya jawab iya-iya aja biar cepet dimarahinnya. Sempet saya ditanya apa yang kamu lakukan itu benar tidak menurut kamu? Saya jawab salah, sebenarnya jauh di di dalam lubuk hati saya, yang saya lakukan itu tidak sepenuhnya salah, karena saya orang yang sangat menganut paham bahwa absen itu sangat tidak penting, buang-buang kertas, berkontribusi memperparah global warming, tapi demi keselamatan pribadi, saya harus mengingkari nurani. Ketiga, baru-baru ini nilai saya dapat predikat belum lengkap a.k.a belum ngumpulin laporan, jadilah saya jadi buronan dosen genetika untung dosennya baik, nilai saya ga dibikin ambles. Pengalaman-pengalaman saya di atas cukup untuk membuat saya menghentikan segala sisi ekstrim saya. Mulai dari datang ujian satu jam sebelum bubar sampai bikin gara-gara sama dosen akan saya sudahi sampai di sini, saya rasa sudah cukup untuk dijadikan referensi buat masa depan saya, sudah cukup saya kecewakan banyak orang, sudah saya temukan bagian yang tepat untuk mengisi puzzle hidup saya. Sudah sangat cukup.

Saya mulai perbaikan diri saya dengan ikut semester pendek. Ada 3 kelas yang dibuka, dengan semangat perjuangan saya daftar di tiga kelas, ternyata Cuma 2 kelas yang memenuhi kuota minimal untuk kelas kuliah. Alhamdulillah, Cuma dua kelas yang dibuka, karena ternyata sodara-sodara setelah dijalani tu dua mata kuliah buat saya kuliah dari pagi sampe sore dari hari senen sampe hari minggu (biarpun sabtu minggu Cuma praktikum doang tapi tetep aja). Saya rasa konsekuensinya sebanding dengan semua yang harus saya kejar, kadang ada rasa menyesal ikut SP tapi bukankah tidak ada pain berarti tidak juga ada gain (bahasa yang bagusnya, No Pain No Gain)?? Hehehe…

Sampai pada kesimpulan bahwa, saya sudah bukan anak kecil lagi untuk berpetualangan ekstrim dengan oportunity cost yang sangat mahal untuk saya bayar, tapi SAYA SUDAH SAATNYA JADI BACKPACKERS (hahaha ga nyambung) tapi saya bener-bener pengen jadi backpackers. Hmmm…mudah-mudahan semua yang saya tulis bisa jadi bahan pertimbangan untuk melakukan segala sesuatu, jangan sampai jatuh terperosok seperti saya. Bangsa ini sudah terlalu banyak terperosok kawan, saatnya bangkit berdiri, tatap masa depanmu, enyahkan rasa traumamu, selalu ada jutaan “kesempatan kedua” untuk pelari-pelari kehidupan.

Tak lupa pula saya ucapkan DIRGAHAYU KE 63 INDONESIA !!

Di tanah ini aku lahir, di tanah ini aku mengabdikan diri, di tanah ini pula aku ingin mati!!
MERDEKA!!!

Kuda Trauma

Saya beranggapan semua orang punya rasa trauma Tapi kadarnya berbeda setiap orangnya. Misalnya seperti adek saya yang trauma makan sebuah merk mie instant (demi kebaikan bersama saya tidak menyebutkan nama merk hhehe). Kalo ga salah inget ya gara-gara nyoba makan mie tersangka karena terpengaruh iklan yang super heboh adek saya muntah-muntah seharian. Sekarang denger nama mie tersangka disebut-sebut pun adek saya udah mual-mual. Kalo saya ditanya hal apa yang paling bikin saya trauma, saya akan jawab, Banyak bro! mulai dari Depok (tapi sekarang udah sembuh), cicak, jarum suntik, seseorang di kampus, ketinggian, sampe kuda. Soal teauma sama kuda saya baru-baru ini mengalami saat singkat yang tak terlupakan dengan kuda (weitss). Sekitar 2 minggu menjelang UAS berlangsung. Waktu bangun tidur saya merasa hari ini akan baik-baik saja tanpa suatu cobaan yang menanti tapi ternyata…….! emang biasa aja, hari itu saya harus ke kandang untuk praktikum, semua berjalan lancar dan cepat. Pulang dari kandang saya mengobrol dengan beberapa teman saya. Jarak 10 meter dari tempat saya berdiri, ada 2 ekor kuda berwarna coklat dan berwarna hitam yang merumput dengan tenangnya. Si kuda tenang saya pun tenang berjalan. Tapi! Sesuatu terjadi tiba-tiba! Moncong kuda hitam berada sangat dekat dengan saya! Giginya yang putih berkilat tertangkap jelas di mata saya! Duakkk!!! Sedetik kemudian saya merasa benjolan muncul dari kepala saya, ketika diraba kepala saya memang sudah benjol diseruduk oleh si kuda. Rasanya kepala saya berat, saya dikerumuni banyak orang, semua orang bertanya, “ Ophie ga mau pingsankan?? (Ya ga lha! ga seru ceritanya kalo jagoannya pingsan gara-gara diseruduk kuda)”. Ga pingsan si, tapi sepertinya ada banyak bintang di atas kepala saya. Setelah saya menoleh ke arah si kuda hitam tukang seruduk, dia memasang tampang innocent seolah tak terjadi apa-apa!! Terlintas di benak saya untuk memasang berita di Koran kampus, tentang berita penyerudukan oleh si kuda hitam

Headline News : Telah jatuh korban penyerudukan kuda di lintas kandang fakultas peternakan IPB. Tidak ada luka pada tubuh korban, hanya saja sang korban kepalanya benjol. Sedetik kemudian rektor IPB mengirimkan sepasukan polisi untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Tersangka akhirnya tertangkap dengan mudah di sebuah kandang tak jauh dari lokasi kejadian. Polisi langsung membawa tersangka ke rumah potong hewan untuk dihukum mati.

Tapi karena saya tak tega pada si kuda hitam dan untuk menjaga nama baik saya, akhirnya saya memutuskan tak jadi melaporkannnya pada pers media, saya ikhlaskan diri saya yang teraniaya oleh seekor kuda (ah…lebay!!). hari-hari berikutnya kalo saya ketemu kuda dilepas di jalan, minimal saya harus menjaga jarak kurang lebih 3 meter jauhnya, dengan alasan menjaga keamanan.