Monolog

Aku yakin
jawaban atas segala doa akan melangit luas di hamparan dunia
Aku yakin
Tanpa teori yang sangat rumit Kau mampu menebar indah tanpa resah
Dan aku sangat yakin
Aku bisa bersandar pada-Mu tanpa jeda
tanpa cela

NS Darmaga, 22 Februari 2011

Insomnia (Refrain Dialog con’t)

Terlihat jelas, ketika aku tak mempu menutup mata malam ini
imajiku menyaji sejuta bayangmu
Senyummu, tawamu, bahkan luasnya punggungmu
Oh…ada lagi, ternyata ada pendar seorang yang tertidur di sampingmu,
semua orang tahu ada surgaku di bawah telapak kakinya
Ini hari kesekian aku tak melihatmu jatuh tertidur
Tak jarang masih lengkap dengan safari berkantong dua milikmu
Sungguh
Rasanya pantas hari ini aku memohon ampun
Atas remahnya botol kaca yang belum terhimpun

NS
Darmaga, 22 Syawal 1431 H

Hidup, keadaan, mutiara, dan tentara

Bagaimana jadinya jika hidup diserahkan pada keadaan? Alirnya terserah keadaan mau dibawa kemana, kata orang biarkan saja seperti air mengalir, ke hulu, ke hilir, lalu lautan, atau menguap saja tersengat matahari?. Hanya sebuah pilihan di tengah pilihan. Atau lebih memilih hidup seperti tentara di tengah perang, tak ada kompromi pada seluruh titik lemah, mengubah tantangan & hambatan menjadi kesempatan, bertahan demi negeri impian timbunan harapan. Tak ada bedanya, itupun masih variasi sebuah pilihan. Tapi bukankah sebuah mutiara tak terbuat dari mutiara kemudahan? Ia selalu berkata pada luasnya lautan “menyaji keindahan butuh pengorbanan, tuan. Indahku tak tersaji dalam sekedip matamu memandangku”. Akhirnya Kekasihku berkata ” Sesungguhnya Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Dan Ia pun memberikan jawaban atas pilihan hidup yang harus dipilih.