Kali ini Saya ingin menulis hal-hal autis. yang mungkin sulit diterima akal sehat dan di luar nalar (hahaha…), tapi cerita-cerita berikut ini 100 % nyata tanpa rekayasa, silahkan dibaca.
Di siang hari bolong masa SMP, Saya yang masih polos sedang tidak ada kerjaan. Karena bosan, Saya mencet-mencet sembarang nomor telpn, ketika diangkat oleh yang punya rumah langsung Saya tutup. Begitu seterusnya sampai berkali-kali. Tiba-tiba (maaf) Saya kebelet kentut, dari situ Saya mendapat ilham. Saya pencet nomor telpn 262513 dan voila! Ada orang yang mengangkat. Bersamaan dengan terdengarnya suara halo, Saya kentut sekeras-kerasnya. Selesai kentut, sambungan telponnya langsung Saya tutup. Saya tersenyum puas.
Waktu SMA, Saya punya hobi yang merugikan, yaitu telpon sampai berjam-jam, sebenarnya yang dibicarakan tidak begitu penting, tapi yang namanya hobi tetap saja berjalan walau harus disemprot Bapak-Ibu Saya tiap awal bulan. Suatu hari Saya sedang menelpon teman Saya, di tengah obrolan Saya berpikir untuk mengetes kabel roll di sebelah Saya nyetrum kalau dipegang, Saya coba masukkan 2 jari Saya ke dalam lubang kabel roll. Ternyata nyetrum sodara-sodara!. Tangan Saya nempel, susah dicabut, baru setelah beberapa detik kesetrum tangan Saya bias ditarik. Akhirnya tidak sampai 15 menit Saya menyudahi obrolan Saya lewat telpon karena Saya lemas luar biasa pasca kesetrum. Efek dari kesetrum itu, mengakibatkan tangan Saya gemetaran selama 1 jam kemudian.
Sampai awal tingkat 1, penyakit insomnia (susah tidur malam) Saya masih suka kambuh. Hampir jam 12 malam, Saya sama sekali belum merasa ngantuk. Akhirnya, Saya putuskan keluar kamar karena tahu Azka belum tidur. Dia sedang menggoreskan kapur ajaib di pintu kamarnya yang kadang terkenal sebagai sarang semut dan rayap. Tiba-tiba, seekor kecoa yang sedang sial lewat tepat jiwa ilmuwan Saya bangkit. Bersama dengan Azka, Saya elingkari lantai di sekitar kecoa sial itu, mulai dari lingkaran kecil sampai lingkaran besar. Ternyata kecoa yang hanya sampai taraf teller itu berhasil kabur. Merasa gagal menangkap kecoa, Saya mencoba mengembangkan bakat menggambar Saya dengan media pintu kamar dan kapur ajaib. Pesan sponsor : Lebih baik beli obat serangga semprot dibandingkan kapur ajaib. Belum lama ini Saya menyemprotkan obat serangga pada kecoa, tidak sampai 1 menit kemudian kecoanya langsung mati.
Suatu hari jumat di semester 4 kuliah, Saya diajak makan siang oleh Bapak tercinta di sebuah restoran khas Sunda yang baru buka di sekitar jalan Baru Bogor. Dindingnya terbuat dari pilinan bambuyang seharusnya menciptakan hawa sejuk, Sayangnya hawa di restoran tersebut masih tetap panas. Tapi sebenarnya bukan itu yang mau Saya ceritakan hwahaha…..Jadi begini, karena melihat sekotak tisu dan lilin di atas meja, jiwa ilmuwan Saya terpanggil untuk melakukan eksperimen kecil (untuk kesekian kalinya), langsung dan mudah dilakukan. Saya beri judul eksperimen tersebut dengan “Uji Tingkat Nyala Api Pada Hasil Olahan Kayu Berkapiler” (keren kan judulnya?? Hahaha….). metodenya begini, ambil satu lembar tisu, kemudian dibakar di atas lilin yang meyala dan diamati tingkat nyala api yang dihasilkan. Hasilnya? Di luar dugaan, Saya kira apinya kecil, ternyata jauh lebih besar dari yang Saya kira. Karena takut tangan Saya terbakar, akhirnya tisu yang terbakar itu Saya jatuhkan di atas meja. Dapat diprediksi bahwa hasil eksperimen ini mengakibatkan taplak meja restoran baru itu bolong, serta Saya berhasil mendapat nobel berupa omelan dan mata yang melotot dari Bapak Saya (Dalam hati Bapak : Ya Allah! Kok punya anak perempuan gini-gini amat ya?!). Reaksi Saya? Cukup bersikap Cool disertai dengan cengiran.
Semester 4 kuliah, saya diberikan tugas praktikum untuk memelihara puyuh selama 1 bulan. Sistem pemberian pakannya adalah 2 kali sehari dengan petugas piket yang bergiliran, 2 orang per hari. Puyuh adalah ternak manja dan mudah stress, agar puyuh dapat menghasilkan telur setiap hari dibutuhkan suasana tenang, warna ruangan yang tidak mencolok, termasuk baju petugas piketnya serta banyak persyaratan lainnya. Hari itu tiba giliran Saya piket, Saya sedang benar-benar tidak niat piket dan kebetulan saya mengenakan jilbab merah, rok merah, dan baju bergaris-garis merah. Menyimpan dendam pada puyuh karena piket yang telah dibuatnya, sepanjang piket saya mengagetkan puyuh di seluruh kandang, sambil bernyanyi-nyanyi, teman satu kelas saya yang sepiket hari itu hanya bergeleng-geleng kepala melihat kelakuan saya. Selang 2 minggu kemudian, hasil pemeliharaan puyuh sekelas mendapat komentar tak enak dari dosen, “ Ada apa dengan puyuh kelas kalian? Kenapa puyuh yang bertelur hanya minggu pertama dan kedua?. Tidak ada yang berani menjawab, untuk menyelamatkan hidup, saya memasang tampang tak tau apa-apa, padahal dalam hati saya bahagia, perlakuan saya membuat puyuh stress dan tidak bertelur berhasil dengan gemilang.
Pesan sponsor : bagi yang ingin berguru tentang hal-hal autis silahkan hubungi YM saya hahaha….
Pernah merasa ga berbakat melakukan sesuatu?? Hari ini saya sedang merasa ga berbakat untuk kuliah. Tekad jadi mahasiswa baik-baik sepertinya masih mimpi hehehehe…..Tapi biarpun ga berbakat kuliah saya masih tetap agak sedikit berbakat untuk belajar.
Sodara-sodara sekalian Selamat Idul Fitri 1429 H. Mohon maaf atas kesalahan yang pernah saya buat, termasuk kesalahan saya tidak menepati janji untuk berkomitmen nulis blog seminggu sekali
Best Regards
Ophie -A Backpackers wannabe-
Meski terlambat izinkan saya mengucapkan :
Salam cinta untuk saudara-saudaraku sekalian
Sebagai pemilik blog yang pernah salah dan khilaf
Dengan segala ketulusan hati di bulan ramadhan
Saya mengucapkan mohon maaf Lahir dan batin
Semoga amal ibadah kita selama bulan puasa ini
Mendapat keridhoan dari Allah, Sang Maha Kuasa.
Bulan ramadhan kali ini adalah bulan yang penuh keajaiban. Banyak kejadian yang membuat saya tetap tersadarkan bahwa tak ada nikmat Allah yang mampu saya dustakan. Salah satunya adalah, pagi-pagi sewaktu berangkat kuliah, seperti biasanya saya selalu berangkat saat waktu masuk kuliah sudah mepet, misalnya 5 menit sebelum masuk atau pas jam kuliah mulai saya baru berangkat, walau kosan saya terhitung cukup jauh dari tempat saya kuliah. Supaya tidak ekstrim terlambat saya selalu naik ojek untuk berangkat ke kampus. Pagi itu, seperti pagi biasanya, saya berangkat kuliah dengan ojek yang dikendarai oleh seorang bapak paruh baya. Beliau mengendarai ojeknya dengan kecepatan standar, 40 km/jam saya rasa. Di tengah perjalanan ada seekor anjing yang jaraknya tidak lebih dari setengah meter. Entah mengapa, saya mendapat firasat bahwa ”berbahaya jalan di dekat anjing ini”.
Tidak lama kemudian, Si anjing tiba-tiba berbelok sampai sangat dekat dengan ojek yang saya naiki, bapak pengendara ojek tiba-tiba saja mengerem motor yang beliau kendarai. Sedetik kemudian saya terlempar dari motor ke jalanan aspal kampus. Beberapa detik setelah jatuh, saya tak sadar apa yang terjadi, saya disadarkan oleh rasa sakit di rahang bawah sampai ke seluruh kepala dan bibir saya yang berdarah. Tiba-tiba saya jadi selebriti sesaat, banyak orang yang mengerumuni. Semua yang ada di TKP (tempat kejadian perkara) menyarankan saya untuk ke poliklinik dulu, selain saya tidak percaya pada dokter poliklinik IPB, pasien sakit apapun selalu diberi obat Amoxylin, hari itu saya sedang benar-benar ingin kuliah. Akhirnya, bapak pengendara ojek kalah dengan Ophie yang sedang keras kepala, beliau langsung mengantarkan saya ke fakultas.
Singkat cerita, sampai di depan ruang kelas dosen sudah mulai mengajar sekitar 15 menit yang lalu, dengan keberuntungan yang saya punya, saya masih diijinkan masuk. Di dalam kelas, kepala, rahang, tangan, dan kaki saya rasanya tidak dapat dideskripsikan. Namun, sekali lagi, saya orang yang beruntung, tidak ada satupun luka lecet, Alhamdulillah saya cuma lebam sedikit di rahang, dan kaki. Hari yang luar biasa bukan?
Di bulan ramadhan ini juga nilai semester pendek saya kemarin keluar. Kali ini saya merasakan bahwa tidak ada satupun perjuangan yang sia-sia untuk memperbaiki diri, Alhamdulillah nilainya seperti yang diharapkan. Percaya atau tidak, ini adalah nilai A pertama saya sejak masuk ke Jurusan. Semester 3 dan 4, bisa dibilang saya agak tidak memperdulikan kuliah saya. Banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari jurusan ini bukan yang saya inginkan, saya mendapatkan karena sebuah sistem pemilihan jurusan yang diciptakan IPB, sampai hal-hal lain yang lebih senang saya lakukan dibandingkan dengan berangkat kuliah. Butuh waktu untuk jatuh cinta pada jurusan ini, butuh waktu untuk menyadarkan diri bahwa dunia itu tidak akan pernah selalu seperti yang saya inginkan, butuh waktu untuk mencintai apa yang saya punya sebelum saya benar-benar kehilangan akibat kemahatololan saya.
Belum lama ini, saya menonton ulang film drama Jepang yang diangkat dari kisah nyata. Sekitar 1.5 tahun lalu saya menontonnya bersama teman seasrama. Judulnya mungkin sangat familiar, One Littre Of Tears. Ceritanya tentang perempuan berumur 15 tahun yang divonis spinocereberal degeneration disease (ataxia), yaitu penyakit degenaratif pada sel saraf otak kecil yang merupakan pusat koordinasi gerak sehingga penderita penyakit ini lama-kelamaan tidak akan bisa berjalan, berbicara, menggerakkan tangan, bahkan menelan makanan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Salut saya dengan pemeran utamanya, perjuangannya untuk bertahan hidup sangat luar biasa, orang-orang yang disekitarnya pun sangat luar biasa. Apapun yang bisa dia lakukan mulai hilang satu persatu. Sampailah ia pada suatu keputusasaan, saat ia tinggal di rumah sakit dan ingin menelpon ibunya pun ia tidak lagi bisa. Namun, ibunya yang sangat luar biasa berkata, ”kamu masih bisa menulis, teman-teman yang seumuran kamu belum tentu bisa melakukannya, lihat sudah berapa banyak yang kamu tulis”. Akhirnya tokoh utama tersebut, setiap hari selalu menulis sampai ia benar-benar tidak bisa lagi menggerakkan tangannya. Tulisannya dimuat di sebuah buku yang sampai saat ini sudah terjual lebih dari 18.000.000 eksemplar di negeri asalnya. Tokoh utama film ini meninggal pada umur 25 tahun, 10 tahun setelah vonis penyakitnya. Banyak orang yang tergugah hatinya karena tulisan-tulisannya. Setelah saya menonton film ini, saya banyak berpikir tentang konsep diri saya, tujuan hidup saya, manfaat hidup saya, dan seluruh hal yang saya lakukan. Sama seperti tokoh utama film itu, untuk hidup di dunia ini saya diberi waktu yang terbatas, entah lebih lama entah lebih sebentar. Namun, dari segi penghargaan saya terhadap apa yang saya punya, saya jauh lebih buruk dibandingkan dengan tokoh utama film tersebut. Kadang belum sempat mengucapkan Alhamdulillah atas rejeki yang saya dapatkan, saya sudah mengeluh mengapa saya dapat ini? Mengapa saya tidak dapat itu? Dan hal-hal lain yang seharusnya tidak terlintas di benak saya ketika menerima sesuatu dari Allah.
Halo-halo sodara!! Pasti merindukan saya (ngarep!! hahaha). Berikut ini laporan saya selama ngilang dari dunia perblogan, sampe blog saya jadi basi, sepi, ga ada yang ngunjungin, ga ada yang komen (T_T sedihnya)
Akhirnya, setelah sekian lama teracuni oleh aroma-aroma cendawan objek percobaan, korban mata yang bengkak ditambah demam sehari gara-gara serbuk biopestisida, tiba waktunya pengumuman…..Jreeeng..!!! penelitian saya dan teman-teman saya Cuma dapat peringkat ke 11 padahal yang diambil ke nasional cuma 5. Mau tau rasanya??? Nyesek….pengen nangis, tapi sepertinya saya ga secengeng itu. Sempet saya berpikir pengen taubatan nashuha buat ngajuin proposal penelitian, tapi setelah saya pikir-pikir lagi seorang scientist itu jangan mudah menyerah. Sekali gagal harus dicoba lagi. Tapi….Ga pake tapi-tapi!!!. Jadi sudah saya putuskan tahun ini harus bikin lagi!! Tapi……Idenya ga ada hahaha…..(ada yang punya ide??)
Imbas dari kebanyakan di lab buat running penelitian kuliah saya jadi keteteran semua nilainya jadi mikro (sama kayak semester kemaren), serasa saya ga punya muka di depan orang tua saya, untung belum tau, dan saya bertekad ga akan ngasih tau sampai transkrip semester 5 dibagiin (mulai aja belum). Semester ini, saya ditargetkan oleh pembimbing akademik (PA), IP saya harus menyentuh angka >3.5 fantastis buat orang seperti saya yang ber-IP 2.5 saja ga nyampe (parah bukan???). Akibat dari kemelorotan yang saya buat sendiri saya di sidang 1.5 jam di hadapan adek-adek kelas yang PA-nya bareng.
Bapak PA : Kamu!! gimana nilai kamu semester ini??
Ophie : Jelek pak….(Dengan tampang sedikit pucet, sambil dahi berkerut-kerut)
Bapak PA : Mau jadi apa kamu nilainya seperti itu??
Ophie : Mau jadi dosen, peneliti sama pengusaha pak (Kalo ini saya pasang
tampang PD hehe)
Bapak PA : Mana bisa kamu jadi dosen kalo nilainya gitu??? Dosen minimal harus
punya IPK 3.0
Ophie : Bisa Pak!! (Ngotot haha)
Bapak PA : kamu jadi orang jangan stubborn deh. Kamu bimbingan saya
yang pertama nilainya melorot begini, kamu mencemarkan nama baik saya
saja!. Kayaknya kalo nilai kamu masih seperti ini, saya mau tulis surat ke
departemen untuk mengundurkan diri jadi PA kamu.
Ophie : waduh pak…saya mau di lempar kemana?, bapak aja ga sanggup, apalagi
yang laen. Kalopun ada yang sanggup, belum tentu mau nerima mahasiswa
kayak saya
Bapak PA : OK!, kalo begitu minimal semester ini IP kamu harus 3.5!!
Ophie : (Mendadak dapat wangsit untuk minum obat mencret)
Adek2 kelas: ***diam seribu bahasa****
Hmmm….kira-kira begitulah sinopsis persidangan saya dengan PA saya, rekaman lengkapnya itu jadi folder rahasia di otak kanan saya. Kayaknya image saya sebagai kakak kelas yang mengayomi dan jadi teladan yang baik rontok berkeping-keping di mata mereka hehehe….
Berawal dari dua buah kegagalan di departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas peternakan Institut Pertanian Bogor, saya punya misi untuk menyudahi petualangan saya mencari puzzle diri dengan cara ekstrim. Semester 4 ini, pengalaman berurusan dengan dosen sudah sangat luar biasa. Suatu hari, tepat saat praktikum saya datang sebelum 15 menit lagi bubar, jelas itu artinya Sang Ibu Dosen Gondok ujung-ujungnya saya diusir (Sebuah pengalaman yang traumatis). Kedua saya dipanggil ke ruang dosen gara-gara nandatangani temen yang ga masuk, dosennya ngamuk-ngamuk tapi saya jawab iya-iya aja biar cepet dimarahinnya. Sempet saya ditanya apa yang kamu lakukan itu benar tidak menurut kamu? Saya jawab salah, sebenarnya jauh di di dalam lubuk hati saya, yang saya lakukan itu tidak sepenuhnya salah, karena saya orang yang sangat menganut paham bahwa absen itu sangat tidak penting, buang-buang kertas, berkontribusi memperparah global warming, tapi demi keselamatan pribadi, saya harus mengingkari nurani. Ketiga, baru-baru ini nilai saya dapat predikat belum lengkap a.k.a belum ngumpulin laporan, jadilah saya jadi buronan dosen genetika untung dosennya baik, nilai saya ga dibikin ambles. Pengalaman-pengalaman saya di atas cukup untuk membuat saya menghentikan segala sisi ekstrim saya. Mulai dari datang ujian satu jam sebelum bubar sampai bikin gara-gara sama dosen akan saya sudahi sampai di sini, saya rasa sudah cukup untuk dijadikan referensi buat masa depan saya, sudah cukup saya kecewakan banyak orang, sudah saya temukan bagian yang tepat untuk mengisi puzzle hidup saya. Sudah sangat cukup.
Saya mulai perbaikan diri saya dengan ikut semester pendek. Ada 3 kelas yang dibuka, dengan semangat perjuangan saya daftar di tiga kelas, ternyata Cuma 2 kelas yang memenuhi kuota minimal untuk kelas kuliah. Alhamdulillah, Cuma dua kelas yang dibuka, karena ternyata sodara-sodara setelah dijalani tu dua mata kuliah buat saya kuliah dari pagi sampe sore dari hari senen sampe hari minggu (biarpun sabtu minggu Cuma praktikum doang tapi tetep aja). Saya rasa konsekuensinya sebanding dengan semua yang harus saya kejar, kadang ada rasa menyesal ikut SP tapi bukankah tidak ada pain berarti tidak juga ada gain (bahasa yang bagusnya, No Pain No Gain)?? Hehehe…
Sampai pada kesimpulan bahwa, saya sudah bukan anak kecil lagi untuk berpetualangan ekstrim dengan oportunity cost yang sangat mahal untuk saya bayar, tapi SAYA SUDAH SAATNYA JADI BACKPACKERS (hahaha ga nyambung) tapi saya bener-bener pengen jadi backpackers. Hmmm…mudah-mudahan semua yang saya tulis bisa jadi bahan pertimbangan untuk melakukan segala sesuatu, jangan sampai jatuh terperosok seperti saya. Bangsa ini sudah terlalu banyak terperosok kawan, saatnya bangkit berdiri, tatap masa depanmu, enyahkan rasa traumamu, selalu ada jutaan “kesempatan kedua” untuk pelari-pelari kehidupan.
Tak lupa pula saya ucapkan DIRGAHAYU KE 63 INDONESIA !!
Di tanah ini aku lahir, di tanah ini aku mengabdikan diri, di tanah ini pula aku ingin mati!!
MERDEKA!!!