Tak heran jika alasan utama tidak adanya postingan baru diblog saya adalah kemalasan untuk menulis di blog yang merajalela padahal banyak hal-hal fantastis yang terjadi selama tak bertenggernya postingan di blog saya. Mulai dari hilangnya suami saya yang pertama, Mas N 3230 sampai maling yang menunjukkan profesionalismenya sebagai seorang maling dengan mengambil handphone pengganti Mas N 3230 beserta satu hanphone teman sekamar saya. Selain alasan kemalasan, sebulan terakhir ini saya lebih senang menyampah di milist UKM yang menaungi saya sebagai anggotanya. (more…)
Lagi-lagi…..Berlindung di balik hangatnya pelukan Ibu. Menangis. Sedetik kemudian tertawa. Ayah membelai dan bekata ”Jangan cengeng, Nak”.Tetap. Sulit Berubah. Cengeng bukan hanya berarti mudah menangis. Tak sanggup menerima. Tak selalu pintu terbuka. Tak selalu tangan terulur. Tak selalu hati memahami. Tak selalu ada energi untuk memompa. Mencoba bertahan. Bangkit dari jatuh yang kesekian ratus kalinya. Semoga lebih baik.
Renungan 19 Tahun perjalanan Hidup
7 November 1989 – 7 November 2008
Saya sedang berduka, sangat dalam, atas komanya suami kedua saya. Tak ingat bagaimana kejadian tepatnya, ketika suami saya dalam kondisi kritis alat pacu jantungnya ternyata tidak lagi berada di dekatnya.
Sepertinya gaya bahasa di atas terlalu berlebihan sebaiknya saya ganti saja. Jadi begini pengunjung sekalian, sebagai pembuka, ada baiknya saya perkenalkan suami-suami saya. Laptop adalah suami kedua saya, suami pertama saya jelas handphone merk N 3230 yang katanya produk gagal (biar orang berkata apa bagiku kau segalanya…..Ooou I Love U Bibeh1).
Hari rabu lalu saya kehilangan charger laptop, bukan karena dimaling atau ditodong tengah jalan oleh perampok “Serahkan charger laptopmu, atau nyawamu melayang”2, semua sepenuhnya karena kemahatololan saya. Rabu ini saya memutuskan tidak kuliah karena lebih memilih mengerjakan laporan dengan baik dan benar tidak seperti 3 laporan sebelumnya. laporan baru selesai jam setengah 10, belum mandi, belum menyiapkan slide untuk presentasi jam 10. Saya mandi dengan gaya bebek, cepat-kilat. Slide belum selesai juga, jam setengah 11 kurang 10 saya berangkat dari kosan.
Sampailah saya di kampus dalam kurang dari 10 menit, dengan ojek3 tentunya (dari kosan ke pangkalan ojek butuh jalan kaki sekitar 7 menit). Keberuntungan saya ternyata belum habis, praktikum yang terkenal disiplin, ternyata belum mulai sampai jam 11 siang. Penyebabnya adalah peralatan presentasi belum siap pakai. Kelompok saya berada diurutan kelima, slide tetap masih belum selesai. Sambil memperhatikan kelompok lain presentasi, saya menyelesaikan slide. Ternyata waktu tidak memungkinkan, kelompok saya presentasinya ditunda sampai setelah ujian selesai (Hore…!!).
Selesai praktikum bagian 1 lanjut ke prakikum bagian 2, karena belum sholat saya ke mushola dulu sampai 1 jam kemudian. Saya SMS ke kakak kelas 1 kelompok saya ”Mbak praktikumnya udah bubar belum?”, beberapa menit kemudian saya mendapat balasannya ”udah bubar”. Bagaimana nasib saya karena tidak ikut praktikum? sampai saat ini saya belum tahu, mungkin akan saya dapatkan setelah ujian selesai.
Setelah itu saya mengumpulkan tugas, dan pergi ke dokter. Baru sampai di kosan teman -tempat tinggal sekarang- saya sadar kalau charger laptop saya sudah tidak ada. Mau dinyalakan takut baterainya habis, tidak dinyalakan saya sangat merindukan tatapan tajam matanya, merdu suaranya saat menyanyikan lagu yang saya sukai, kesetiannya menemani saya menonton film, menulis apapun dari tugas sampai proposal, dan banyak hal lain. Sampai saat ini, suami saya masih berada dalam keadaan koma, saya belum mampu menyadarkannya. Rencananya saya baru akan mencari charger baru bersama Bapak saya, setelah selesai ujian tengah semester yang hanya tinggal hitungan jam lagi. Untuk itu, saya perlu persiapan mental, demi mendengar semprotan Bapak saya yang sekian ratus kalinya4.
1Terima kasih pada Changcuters yang membantu saya merepresentasikan cinta tanpa syarat pada kedua suami saya hohoho….^^
2Hanya perampok yang otaknya berpindah ke dengkul yang memilih charger laptop dibandingkan laptopnya sendiri atau barang berharga lainnya.
3Mengingat setiap hari saya berangkat mepet dan setiap hari pula saya berangkat kuliah dengan ojek, saya kepikiran betapa enaknya kalo ada ojek pribadi halal lagi baik a.k.a suami beneran, berhubung saya cuma bisa mengendarai sepeda itupun kadang tanpa rem. Tapi sekali lagi rasional saya bermain untuk yang kesekian kalinya ”mau jadi apa tuh orang di tangan saya?”. Untuk itu, sekarang cukup sebagai lintasan pikiran saja sampai tiba masanya nanti.
4Bapak saya memang tukang semprot ulung, setiap kata tepat ke sasaran tembak tempat virus-virus kemahatololan saya bersemayam.
PS : Mohon doa untuk ujian tengah semester saya kali ini. Semoga hasilnya jauh lebih baik dibandingkan yang kemarin. Amin
Sebelum libur lebaran tiba, saya ditawari teman saya, Randi untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan yang diadakan oleh direktorat kemahasiswaan IPB. Pelatihan ini khusus diikut oleh pengurus lembaga kemahasiswaan kampus ataupun anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), syaratnya untuk mengikuti adalah mengirimkan riwayat hidup dan menuliskan essay tentang peran organisasi mahasiswa terhadap pembangunan pertanian Indonesia, tema tepatnya saya lupa. Pelatihan ini diadakan tanggal 18 dan 19 Oktober di Pasir Sarongge, Cipanas. Singkat cerita, yang mulanya saya ragu-ragu akhirnya saya ikut juga sekalian liburan singkat, sedangkan Randi sendiri harus rela tidak ikut karena ada acara wajib di Asramanya, kalau tidak ikut beasiswanya bisa dipotong beberapa persen.
Rombongan seharusnya berangkat dari kampus jam 7 pagi tapi karena pesertanya belum datang semua termasuk saya, rombongan baru berangkat jam setengah 8 pagi. Seperti yang telah saya duga sebelumnya, dari 21 orang peserta hanya 3 perempuan yang ikut sisanya sebagian besar para lelaki yang sebelumnya saya kenal dari Azka (saya bukan pengurus BEM TPB) sebagai pengurus BEM TPB (waktu saya tingkat satu dulu) dan sisanya ada yang kenal ada yang tidak kenal. Tidak terbayangkan bagaimana pelatihan tersebut berjalan, seperti kamp konsentrasikah? Atau akan menjadi kamp pelatihan yang membosankan? Atau menyenangkan? Tapi saya yakin ada sesuatu yang sama sekali baru buat saya.
Sampai di tempat jam setengah 11, saya beserta peserta lain tinggal di mess milik IPB, daerahnya lumayan jauh dari pusat kota Cianjur. Luar biasa lanskap daerahnya masih cukup alami, udaranya sejuk, pemandangan di depan mess sangat cantik, dengan gunung yang saya tak tau namanya, di bawahnya lahan pertanian dengan sungai kecil berair sejuk dan sangat bening mengalir sampai tak tau kemana. Bangunan messnya terbuat dari kayu, jadi sejuknya udara luar benar-benar bisa masuk ke dalam. Berhubung perempuan yang ikut dalam pelatihan cuma 3 orang jelas saya, Tina, dan Yu-as ditempatkan dalam satu kamar, yang nantinya 2 orang teman sekamar saya ini memberikan kesan yang dalam pada saya.
Ternyata anggapan saya tentang pelatihan yang seperti kamp konsentrasi ini benar-benar hilang, sampai di sana kami benar-benar disambut oleh pengurus mess. Tepat saat makan siang, hidangan yang memenuhi kriteria 4 sehat tersedia dengan cuma-cuma dan sekenyangnya, begitupun dengan hari berikutnya. Hari pertama dipenuhi dengan pemberian materi tentang kepemimpinan, kreativitas, dan renungan malam. Besoknya dilanjutkan dengan lintas alam, outbond, dan materi kepemimpinan bagian 2. Semua kegiatan yang dilakukan di camping Cianjur sangat berkesan bagi saya saking senangnya selama 2 hari satu malam saya tidak berhenti tersenyum. Di sana saya mendapatkan keberanian untuk mengalahkan ketakutan saya akan ketinggian selama ini, untuk pertama kalinya saya mencoba main flying fox. Saat naik pohon untuk meluncur dengan tidak sopannya teman saya berkomentar “Sumpah Phie, Gua kayak lagi nonton national geographic channel sesi panda lagi manjat pohon”. Komentarnya membuat saya tertawa sepanjang perjalanan ke puncak pohon. Perlu waktu yang lebih lama dari yang teman-teman saya yang lain untuk naik ke atas pohon, namun akhirnya saya berhasil naik ke pohon untuk meluncur dengan flying fox.
Materi kepemimpinan yang disampaikan di camp ini mungkin sudah banyak didengar, saya pun sering mendengarnya. Namun, selama ini terkikis oleh banyak hal sehingga membuat saya lupa. Dan di sana saya diingatkan kembali.
Di sana disampaikan bahwa bahagia benar-benar sepenuhnya keputusan kita, dalam keadaan seperti apapun kita bisa bahagia asal kita memilih untuk bahagia. Seperti kata bijaksana yang pernah terpampang pada majalah dinding fakultas saya ”Ya Allah, aku tak tahu kapan harus bersyukur dan bahagia?, Pada rasa sakitku kah? Atau pada rasa senangku? Jika pada sakitku aku bisa banyak berdzikir pada-Mu.
Benar sekali kawan! Bahagia adalah sebuah keputusan, keputusan dari satu-satunya pemain dalam hidupnya. Di hidup ini, hanya kita satu-satunya pemain dalam hidup kita. Orang tua, saudara, teman, dan banyak orang lain di sekitar kita hanyalah penonton mutlak. Sekeras apapun penonton bersorak untuk mendukung dan menjatuhkan hanya kita yang memutuskan kemana lagi kaki ini melangkah, terus majukah? Atau mundur secara perlahan-lahan? Hanya kita yang bisa memutuskan mau hidup seperti apa lagi kita?.
Dan saya, saat camping kemarin saya memutuskan untuk sangat bahagia akan setiap hela napas dan setiap keputusan yang saya buat.
Sebagai seorang traveler yang sering kesasar, saya punya tips buat sodara-sodara sekalian untuk tetap dapat menikmati hari saat kesasar simak baik-baik tips dari saya^_^
.Nikmatilah saat-saat kesasar Anda dan yakinlah bahwa peristiwa ke sasar Anda akan bermanfaat suatu hari nanti. Misalnya, saat ke sasar Anda menemukan tempat wisata yang sebenarnya sangat cocok untuk berlibur tapi tidak banyak orang yang tahu dan Anda pun belum tahu sebelumnya. Hal ini akan meringankan beban otak Anda untuk berpikir kemana akan mengajak teman dan keluarga untuk berlibur. Sekian tips singkat dari saya semoga bermanfaat bagi Anda yang sedang kesasar di suatu tempat.