Duduklah disampingku nak….Kan kudendangkan engkau tentang burung pipit yang gagal terbang tinggi. Ia pipit yang tak lagi boleh mengekor pada ibunya nak, namun pun belum sanggup terbang sendiri.Ia pipit buta nak.Matanya hanya melihat abu-abu. Bukan putihnya awan. Bukan hitamnya malam. Bukan pula warna-warninya pelangi. Tertetes air matanya nak. Saat ia jatuh mencari asa di balik lengkungan pelangi. Sayapnya retak nak. Sakit mendera seribu bahasa. Ia mencoba lagi terbang nak, namun sayapnya tak bisa bergerak. Ia benci diam tapi tak mampu bergerak. Terbuai ia dalam tanya tentang dirinya yang tak bisa terbang. Naas nak, nasib akhirnya berbicara. Matilah ia oleh nasar pemakan daging.


Lelaki itu masih sangat kucinta
Sorot matanya begitu tegas berucap
“Aku sayang padamu”
Lelaki itu tak lagi sekokoh dahulu
Putih rambutnya bercerita tentang usia
”Kamu tak lagi muda manusia”
Dalam heningnya malam
Lelaki itu
Berkata dengan lantangnya
”Aku masih kuat menantang dunia”
Lelaki itu jiwanya masih selembut sapuan angin
Dalam lara ia bahagia
Dalam tangis ia tertawa
Ada ingin kadang patah
Ada mimpi kadang terbungkam
Lelaki itu, ayahku
Ibu….
Ada harap dalam doamu
Menatap nyata dalam mataku
Ibu….
Akan jadi durhaka aku
Jika tak kau temukan
Nyata dalam ragaku
Ibu…
Jiwa ini mencintaimu sangat
Raga ini rindu belaimu sangat
Ibu….
Dan surgaku masih
Di bawah tahta kakimu