Setelah melewati serangkaian proses diplomasi yang luar biasa, Ibu saya tercinta berhasil mengalahkan tembok kekuasaan Bapak saya. Akhirnya Ibu yang luar biasa ini bisa jalan-jalan ke jakarta, bukan berdiam di Banjarmasin. Sehari sebelum invasi Ibu ke rumah Cibubur, jadilah saya dan adek berjibaku membersihkan rumah yang cuma seminggu sekali dikunjungi ini. Ada 3 kamar mandi yang harus dibersihkan, seluruh ruangan lantai atas dan lantai bawah beruntung rumah saya tidak ada perabotannya jadi kali ini acara bersih-bersihnya tidak pakai ngelap perabot.
Mission cleared
Ibu datang bersama Wak (kakak Ibu dari Medan), adek laki-laki saya, dan seorang sepupu dari Banjarmasin. Saya tidak heran kalau Ibu datang membawa keberisikan, belum apa-apa sudah komentar beres-beresnya kurang rap, siapkan ini-itu untuk makan siang Bapak, beresin koper sama bawaan, entah yang mana dulu yang harus dikerjakan. Rasanya memang sangat terjajah dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi mau bagaimana lagi inilah yang saya rindukan dari seorang Ibu. Menjajah dengan cinta istilah saya. Semua rasa terjajah terbayar dengan senyum khas Ibu, masakan Ibu yang tiada duanya, dan kecerewetan yang dirindukan sekaligus dihindari. Ibu saya memang tiada duanya.