Ahmad Sirat, seorang lelaki yang waktu mudanya gagah rupawan, kala tua pun masih terlihat bekas kerupawanan Beliau. Beliau tak pernah punya tanda jasa di saku kemejanya, apalagi berian rumah dinas mewah khas para jendral abad ini, lagipula sebenarnya Beliau bukan Jendral asli Republik ini, tapi setidaknya Beliau adalah Jendral dimata anak-anaknya. Kisah heroik Beliau membela tanah air dengan sebilah bambu runcing menghiasi masa kanak-kanak hampir semua anaknya. Kisah beliau dinjak-injak Kompeni tanpa ditangkap, bersembunyi di dalam masjid setelah lelah berperang ramai mengudara ketika Beliau berkumpul dengan anak-anaknya. Usai bercerita Beliau pun tersenyum.
Setelah tanah air ini merdeka pun Beliau tak lelah menghidupi seorang istri dan 12 orang anaknya hanya dengan pekerjaanny sebagai kuli kebun sawit dan keahlian Beliau bertani. Konon apapun yang ditanam Beliau tumbuh subur, tapi anehnya tak pernah sekalipun Beliau menjual hasil taninya kecuali kebun sawit dan karet, kalimat khas beliau ketika ditanya kenapa tak menjualnya “kenapa mesti dijual, selama masih bisa ngasih kenapa ga dikasih”. Selama berpuluh-puluh tahun hidup Beliau sangat sederhana, seluruh jerih payahnya hanya untuk makan dan sekolah kedua belas orang anaknya. Tak sedikit anaknya yang mengalah hanya demi adik-adiknya agar sekolah lebih tinggi daripada mereka. Sayang anak terakhir yang menjadi anak satu-satunya yang merasakan bangku kuliah mengecawakan Beliau dengan tak kunjung menyelesaikan kuliahnya. Pahit, tapi hebatnya senyum tulus tak pernah pudar dari wajah Beliau. Tak heran kalau Bapakku menobatkan senyum Beliau sebagai senyum Bayi, Tulus tanpa pamrih.
Suatu hari beliau terjatuh di ladang Sawit yang jadi sumber penghidupan masa tua Beliau dan beberapa anak-menantunya kini. Lutut Beliau bengkak tak bisa berjalan, demam meraja, belum lagi hipertensi masa tua bertandang jua. Selama 4 bulan, keluar-masuk rumah sakit sudah menjadi langganan. Sembuh sebulan kemudian masuk rumah sakit lagi, sampai suatu kali semua anak Beliau dipanggil pulang dari perantauan, termasuk Ibu saya. Awalnya Bapak saya tak memperbolehkan, tapi Ibu saya yang bermental baja tak serta merta menyerah pada larangan Bapak saya. Sekeras-kerasnya Bapak, Beliau selalu bertekuk lutut pada keinginan Ibu. Manja, itulah kesan yang ditangkap sepulang dari bertemu Beliau, makan hanya mau disuapi oleh Ibu atau oleh Tante yang juga merantau di bumi Kalimantan. Meski sakit, anehnya Beliau tidak lelah bercerita sampai berbusa-busa padahal jam sudah melewati tengah malam. Datangnya Ibu dan seorang tante ini membawa kesembuhan yang berarti, namun tak lama hanya berselang 2 bulan beliau ambruk lagi, kali ini beliau bersikeras tak mau dibawa ke rumah sakit, dari sinilah aku sadar darimana sifat keras kepala bersarang di Ibu saya dan diwariskan Ibu pada saya itu. Suatu malam, tepat menunjukkan jam setengah 10 terdengar suara tangisan Ibu di ujung telpon, Ibu mengabarkan pada Bapak saya, orang yang dimuliakannya itu tak lagi bernyawa, Beliau meninggal Jam 9 malam waktu setempat. Luruh segala pertahanan Ibu, perempuan sekeras baju itupun menangis tak terbendung, hanya Bapak saya kini yang bisa menenangkan Ibu, saya dan adik saya hanya diam mendengarkan, menyerah dengan serta-merta tak berani bicara pada Ibu karena pasti akan percuma, pertahanan air mata kami tak sekuat Bapak. Manalah kuat menahan air mata ketika mendengar perempuan yang hanya sekali menangis di depan anaknya selain waktu salam-salaman kala lebaran itu, kini menangis pedih, nelangsa kehilangan Jendralnya. Ibu saya baru operasi pengangkatan kista waktu itu, serta-merta kehilangan kekuatan untuk berjalan, beruntung ada kerabat yang menjaga Beliau malam itu. Tak kuasa pulang melihat jendralnya untuk yang terakhir, Ibu mengirimkan Bapak untuk mewakili. Kata banyak orang Jendral Ibu meninggal dengan tersenyum, ketika kubur Beliau digali, luasnya menjadi muat untuk dimasuki dua jenazah padahal hanya digali untuk satu jenazah. Itulah akhir hidup Sang Jendral yang telah menunaikan tugasnya, baik untuk keluarga dan negara yang tercinta ini. Selamat jalan Jendral, doa kami menyertaimu selalu.
Penutup
Tak berlebih-lebihan saya menceritakan semua tentang Ahmad Sirat, yang tak lain dan tak bukan adalah kakek saya dari pihak Ibu, serasa ada lubang menganga kehilangan Kakek saya itu. Hidup Beliau sederhana tapi penuh inspirasi. Tak telalu banyak kata keluar tapi hasilnya selalu tampak nyata bersahaja. Hidupnya untuk mengabdi dan tak berujung pamrih, kali ini saya yakin malaikat menyambut Beliau dengan senyuman.