Love The Life

Profesionalisme : Antara Dosen dan Maling | Dec 14th 2008

Tak heran jika alasan utama tidak adanya postingan baru diblog saya adalah kemalasan untuk menulis di blog yang merajalela padahal banyak hal-hal fantastis yang terjadi selama tak bertenggernya postingan di blog saya. Mulai dari hilangnya suami saya yang pertama, Mas N 3230 sampai maling yang menunjukkan profesionalismenya sebagai seorang maling dengan mengambil handphone pengganti Mas N 3230 beserta satu hanphone teman sekamar saya. Selain alasan kemalasan, sebulan terakhir ini saya lebih senang menyampah di milist UKM yang menaungi saya sebagai anggotanya.

Bicara soal maling, ini bukan kali pertamanya Sang Maling yang tidak budiman ini menunjukkan profesionalismenya sebagai seorang maling. Sudah dua kali teman yang bertandang ke rumah yang saya huni bersama 7 orang teman saya ini, dibobol kunci motornya oleh maling. Kali kedua, ketahuanlah wajah Sang Maling oleh teman saya itu. Maling yang ketahuan mukanya ternyata tidak sendiri, Ia membawa 5 orang temannya. Mereka meneror rumah dengan mengelilingi rumah saya sampai sepeda motor teman saya yang rusak kuncinya itu bisa dibawa pulang ke kosannya.

Teror maling mengelilingi kosan ternyata tidak mampu membuat saya dan teman-teman serumah pindah dengan seketika. Namun, maling kali ini sudah lain ceritanya, maling kali ini bukan lagi soal harta benda, tapi sudah menyangkut nyawa dan kehormatan perempuan. Sang maling nan pemberani itu masuk ke dalam kamar saya ketika subuh menjelang dan seisi rumah rumah sedang terlena oleh buaian Sang mimpi. Adzan subuh bergema, teman saya yang terbangun mencari handphone yang biasanya Ia taruh di bawah bantalnya, naas handphonenya raib. Ia membangunkan saya, ternyata handphone yang baru sehari berada di tangan saya itupun raib. Rapat darurat pun diadakan, saya dan teman-teman serumah memutuskan untuk pindah dari rumah itu tanggal satu bulan depan yang tinggal 5 hari menjelang.

Beberapa jam setelah itupun kami menemukan kenyataan bahwa 2 pisau yang ada di rumah kami raib bersamaan dengan 2 kesatria komunikasi yang setia mendampingi saya dan teman sekamar saya. Dua hal yang membuat saya bersyukur adalah saya baik-baik saja tak kurang suatu apapun dan saya tidak terbangun kala maling datang, karena tidak lucu bagi saya kalau harus meregang nyawa gara-gara rebutan handphone dengan maling. Apalagi teringat perkataan Bapak saya, ”Kalau ada apa-apa sama nyawamu, yang mati bukan cuma kakak, Mamakmu juga bisa ikut mati”. Selain itu, kalau bangun bisa apa saya di hadapan Sang Maling? Tak ada jurus beladiri yang saya kuasai selain jurus Aikido asal-asalan yang cuma bisa menjatuhkan satu orang lengah di tengah malam. Waktu kepindahan kami pun tiba, tak ada derai airmata yang menghiasi, dengan kepindahan kami selesailah sudah babak-babak kisah perempuan-perempuan tangguh penghuni Amazon yang pernah saya ceritakan.

Kejadian lain yang fantastis belakangan ini adalah didampratnya saya, untuk yang kesekian puluh kalinya, oleh dosen mata kuliah yang menjadi tanggung jawab saya. Kasusnya memang sepenuhnya kesalahan saya, dengan pertimbangan yang tidak matang saya membatalkan kuliah pengganti karena saya mau pengamatan praktikum di sebuah restoran yang letaknya di sebuah mall tempat saya sering berkunjung mencuci mata padahal Sang Dosen sudah menunggu kehadiran mahasiswanya di tengah hujan gerimis. Kalaulah boleh saya berkelit, sebenarnya tidak 100 % kesalahan saya, bisa dibilang persentase kecil kesalahan ada pada dosen muda yang menjadi favorit saya, waktu saya konfirmasi 2 jam menjelang dimulainya kuliah ternyata Beliau meninggalkan handphonenya di rumah, dan dari situlah keputusan saya ambil tanpa berusaha mencari Sang Dosen muda di seantaro kampus. Maka terjadilah peristiwa itu. Tak hanya Sang Dosen muda, teman sekelas yang tak biasa kena damprat dosen pun menghujat, persendian saya lunglai, tapi tak serta merta mampu mematahkan harapan hidup saya. Semua saya perbaiki di kuliah pengganti berikutnya. Waktu kuliah pengganti selesai, dengan ajaib Sang Dosen Muda bilang pada saya yang sedang tak karuan kala itu,”Semangat ya, jangan pernah menyerah”, sembari menampakkan senyum termanis yang dimilikinya, takjub, saya mencium punggung tangan Beliau.

Mungkin dari cara mengajar tak ada sesuatu yang unik hingga kadang petuah ilmiah Beliau tak didengar oleh banyak mahasiswa-mahasiswa lemah iman dan bertujuan bias jaman sekarang, tapi caranya memperhatikan mahasiswa bisa dibilang istimewa buat saya. Senyum dan perhatiannya menambah kuatkan tekad saya untuk menjadi seorang dosen berkualitas abad ini, meski waktu jadi mahasiswa saya jauh dari kata berkualitas dan berbobot.

Pertimbangan yang menghalangi saya untuk menjadi dosen adalah ketakutan yang beralasan saya akan karma, waktu jadi murid dan mahasiswa saya tak bisa dibilang baik hati dan lakunya, maka ketika di masa depan saya menjadi seorang dosen akankah saya bertemu tabiat mahasiswa yang jadi borok pendidikan seperti saya nanti? Entahlah, semua masih di Lauhul Mahfuz.


Posted in Uncategorized

No Comments Yet »

Say something?Comments RSS TrackBack URI