Kalau Kakek dan Nenek saya bisa awet sampai ujung hayat, sepertinya itu jualah yang akan terjadi pada Bapak dan Ibu saya. Ibu dan Bapak adalah pasangan yang unik menurut saya. Ibu tak jarang mengeluh soal Bapak padaku begitu juga Bapak, tapi ketika jauh tak kurang dari 3 kali sehari saling menelpon. Pernah suatu kali Bapak pergi ke Malaysia seminggu, tagihan handphone Bapak melonjak sampai menyentuh angka 4 dengan 6 buntut nol di belakangnya.
Cerita pertemuan Beliau berdua pun menggelikan, pertama kali diceritakan saya terkekek-kekek mendengarkannya meski saat itu cinta adalah hal yang tak terdefinisi bagi saya, sama seperti ketidaktahuan saya pada integral dan teori relativitas Einstein tapi semuanya terasa begitu indah. Saat itu, Ibu adalah seorang pegawai timbangan buah sawit sedangkan Bapak adalah asisten pabrik pengolahan sawit, atasan Ibu. Suatu hari, tanpa ada satupun truk buah sawit yang lewat, jarum timbangan bergerak ke angka seratus. Heran, Ibu tak percaya dengan penglihatannya, berkali-kali dilihat keluar tak ada truk yang bertengger di atas timbangan, yang ada hanya seorang lelaki bertubuh tinggi besar berdiri di atas timbangan yang sekarang jadi Bapak saya. Iseng, Ibu memberikan kartu catatan timbangan pada Lelaki itu, tak heran jika lelaki itu melotot galak, pandangan matanya mengatakan “Baru kali ini ada perempuan tengil merendahkanku demikian rupa”.
Setelah peristiwa timbangan cinta itu, Bapak hampir selalu mengajak Ibu kemana pun akan pergi, Bapak jadi rajin mengirimi Ibu surat yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di lemari rumah nenek, setelah pindah dari tempat kerja Bapak waktu bertemu Ibu. Aneh tapi nyata isinya sama sekali tak romantis menurut saya, masih teringat jelas salah satu bagian isinya.
Untuk Adinda
Apa kabar dinda? Apakah Adinda sudah mencuci?
Jelas saya terkekek-kekek membacanya, saya bacakan surat itu pada Bapak, langsung saya dihadiahi pelototan diam-menikam khas Bapak. Dua minggu sebelum datang melamar, Bapak menghilang dari tempat kerja dengan alasan sakit. Ibu yang acuh tak acuh itu pun tak ambil pusing, tapi anehnya gara-gara Bapak sakit Ibu diminta mengundurkan diri dari pekerjaannya. Suatu hari yang mengejutkan, Bapak datang ke rumah beserta Nenek dan 2 orang adik dari Bapak untuk melamar. Bimbang, Sebenarnya saat itu sudah punya pilihan lain yang menantinya, dan pujaan hati Ibu itu sedang pulang ke tanah Jawa untuk mengabarkan pada orang tuanya, entah dengan cara macam apa Ibu akhirnya menerima pinangan Bapak, ketika saya tanya Ibu bilang lupa, tapi terlihat senyum misterius penuh kenangan mengambang di wajah Ibu, dan saya sangat yakin sebenarnya Ibu tak pernah lupa hanya saja Ibu tak ingin membagi kenangannya saat dilamar Bapak. Bicara tentang sebab pengunduran diri Ibu, ternyata setelah diusut Bapak yang merencanakan semuanya, Ia meminta pada atasannya yang juga paman Bapak untuk membujuk Ibu berhenti bekerja, karena memang peraturan perusahaan sawit itu melarang suami istri untuk bekerja di sana.
Sampai sebesar ini, jarang saya mendengar kalimat mesra meluncur dari mulut Bapak dan Ibu. Kalau pun ada pasti saat itu Ibu sedang minta sesuatu pada Bapak atau saat itu Bapak sedang habis sabar menghadapi Ibu yang keras kepala.
“Papa sayang, papa ganteng hari ini kita makan di luar yuk, mama lagi males masak”
“Mama! Papa itu sayang sama Mama! Pokoknya mobil mau Papa jual, Mama ga boleh nyetir mobil lagi! Operasi Mama itu bukan Operasi kecil!!”
Cinta Bapak-Ibu saya itu sepertinya bukan pada kata-kata. Hanya Ibu yang tahu bagaimana menyenangkan Bapak dengan rasa masakan, hanya Ibu yang ahli seberapa licin menyetrika baju dan celana kerja Bapak, hanya Ibu yang tahu saat Bapak sedang kalut ketika mengundurkan diri dari pekerjaan Bapak, dan hanya Ibu tempat Bapak berbagi rasa tentang banyak hal yang tak seorang pun boleh mengetahuinya. Begitu pula sebaliknya, Bapak setia sampai mati pada Ibu, tak pernah saya dengar Bapak memuji-muji kecantikan perempuan lain baik di depan anak-anaknya ataupun di depan Ibu, hanya Ibu yang paling cantik di mata Bapak. Hanya Bapak yang tahu perempuan keras kepala yang kadang bisa jadi sangat galak pada anaknya itu sebenarnya sangat rapuh pada banyak hal, hanya Bapak yang mau berbalik 6 jam perjalanan jauhnya dari tempat kerja Bapak hanya karena Ibu sakit. Dan Bapak juga sangat rela mengambil cuti saat Ibu harus dioperasi. Bapak adalah belahan jiwa Ibu dan Ibu adalah belahan jiwa Bapak. Separuh jiwa mereka telah tertransplantasi pada masing-masing. Sekeras-kerasnya Bapak, selalu bertekuk lutut pada Ibu, dan sekeras-kepalanya Ibu selalu tak pernah melawan saat suara Bapak meninggi. Saling melengkapi, meski tak jarang perang dingin terjadi. Hebatnya separah apapun masalahnya tak pernah sekalipun saya dan adik-adik saya mendengar percek-cokan mulut apalagi sambil banting-banting barang. Melihat Bapak dan Ibu terselip keinginan saya untuk punya hidup seperti mereka, suatu hari nanti.
So sweet…
mudah2an ibunda tercinta cepet sembuh ya
Comment by uchielz — December 14, 2008 @ 10:33 pm
ibu bapakmu jadi teladan yg baik gitu. semoga selalu sehat2..
Comment by anonim — December 8, 2009 @ 2:27 pm
Amiiiiiinn….Alhamdulillah sekarang sehat bahagia sejahtera heheheh…..
Comment by Ophie — December 9, 2009 @ 5:02 am