Setelah melewati serangkaian proses diplomasi yang luar biasa, Ibu saya tercinta berhasil mengalahkan tembok kekuasaan Bapak saya. Akhirnya Ibu yang luar biasa ini bisa jalan-jalan ke jakarta, bukan berdiam di Banjarmasin. Sehari sebelum invasi Ibu ke rumah Cibubur, jadilah saya dan adek berjibaku membersihkan rumah yang cuma seminggu sekali dikunjungi ini. Ada 3 kamar mandi yang harus dibersihkan, seluruh ruangan lantai atas dan lantai bawah beruntung rumah saya tidak ada perabotannya jadi kali ini acara bersih-bersihnya tidak pakai ngelap perabot.
Mission cleared
Ibu datang bersama Wak (kakak Ibu dari Medan), adek laki-laki saya, dan seorang sepupu dari Banjarmasin. Saya tidak heran kalau Ibu datang membawa keberisikan, belum apa-apa sudah komentar beres-beresnya kurang rap, siapkan ini-itu untuk makan siang Bapak, beresin koper sama bawaan, entah yang mana dulu yang harus dikerjakan. Rasanya memang sangat terjajah dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi mau bagaimana lagi inilah yang saya rindukan dari seorang Ibu. Menjajah dengan cinta istilah saya. Semua rasa terjajah terbayar dengan senyum khas Ibu, masakan Ibu yang tiada duanya, dan kecerewetan yang dirindukan sekaligus dihindari. Ibu saya memang tiada duanya.
Kalau Kakek dan Nenek saya bisa awet sampai ujung hayat, sepertinya itu jualah yang akan terjadi pada Bapak dan Ibu saya. Ibu dan Bapak adalah pasangan yang unik menurut saya. Ibu tak jarang mengeluh soal Bapak padaku begitu juga Bapak, tapi ketika jauh tak kurang dari 3 kali sehari saling menelpon. Pernah suatu kali Bapak pergi ke Malaysia seminggu, tagihan handphone Bapak melonjak sampai menyentuh angka 4 dengan 6 buntut nol di belakangnya.
Ahmad Sirat, seorang lelaki yang waktu mudanya gagah rupawan, kala tua pun masih terlihat bekas kerupawanan Beliau. Beliau tak pernah punya tanda jasa di saku kemejanya, apalagi berian rumah dinas mewah khas para jendral abad ini, lagipula sebenarnya Beliau bukan Jendral asli Republik ini, tapi setidaknya Beliau adalah Jendral dimata anak-anaknya. Kisah heroik Beliau membela tanah air dengan sebilah bambu runcing menghiasi masa kanak-kanak hampir semua anaknya. Kisah beliau dinjak-injak Kompeni tanpa ditangkap, bersembunyi di dalam masjid setelah lelah berperang ramai mengudara ketika Beliau berkumpul dengan anak-anaknya. Usai bercerita Beliau pun tersenyum. (more…)
Tak heran jika alasan utama tidak adanya postingan baru diblog saya adalah kemalasan untuk menulis di blog yang merajalela padahal banyak hal-hal fantastis yang terjadi selama tak bertenggernya postingan di blog saya. Mulai dari hilangnya suami saya yang pertama, Mas N 3230 sampai maling yang menunjukkan profesionalismenya sebagai seorang maling dengan mengambil handphone pengganti Mas N 3230 beserta satu hanphone teman sekamar saya. Selain alasan kemalasan, sebulan terakhir ini saya lebih senang menyampah di milist UKM yang menaungi saya sebagai anggotanya. (more…)