Lagi-lagi…..Berlindung di balik hangatnya pelukan Ibu. Menangis. Sedetik kemudian tertawa. Ayah membelai dan bekata ”Jangan cengeng, Nak”.Tetap. Sulit Berubah. Cengeng bukan hanya berarti mudah menangis. Tak sanggup menerima. Tak selalu pintu terbuka. Tak selalu tangan terulur. Tak selalu hati memahami. Tak selalu ada energi untuk memompa. Mencoba bertahan. Bangkit dari jatuh yang kesekian ratus kalinya. Semoga lebih baik.
Renungan 19 Tahun perjalanan Hidup
7 November 1989 – 7 November 2008
jangan menangis..masih ada yang bahagia sahabatku..
ophie, deni jadi kangen ibu deny…
hiks..pulang!!!
Comment by jejaksatria — December 1, 2008 @ 9:46 am
Hihihi….Dence cengeng ah….
kalo mw pulang pulang aja, minggu ini kan idul adha rugi ga pulang hehehe
Comment by Ophie — December 4, 2008 @ 10:16 am
banyak tugas phi…harus beres cepet…buat program lagi euy..
Comment by deni-chan — December 5, 2008 @ 3:27 am
happy blessedday! haha. yah memang bagaimana pun ujung-ujungnya kita selalu ngerasa kayak anak kecil kalo udah di hadapan ortu.
@deni: panggilan ‘-chan’ itu bukannya untuk perempuan ya? err, ga tau sih, ga bisa bahasa jepang juga soalnya. hehe.
Comment by azkaa,, — December 11, 2008 @ 9:01 pm
hehe…panggilan temen-temen ilkom
hihii…dasar
Comment by jejaksatria — December 12, 2008 @ 3:38 am
hahaha ada yang sotoy diatas…
Chan itu bisa buat panggilan cowok ato cewek.
Contoh:
Cowok bernama Chandra Nugraha ato cewe bernama Chandrawinata Putrianti
Comment by Bhro — December 13, 2008 @ 1:38 am
hahaha….setuju..setuju…
asal jangan deni-chantiq…
wahahaha…
Comment by jejaksatria — December 26, 2008 @ 1:31 pm
igh, nangisnya nggak jadi. malah ngakak…gara-gara baca comment..
Comment by deezeeka — January 9, 2009 @ 7:07 am