Meski terlambat izinkan saya mengucapkan :
Salam cinta untuk saudara-saudaraku sekalian
Sebagai pemilik blog yang pernah salah dan khilaf
Dengan segala ketulusan hati di bulan ramadhan
Saya mengucapkan mohon maaf Lahir dan batin
Semoga amal ibadah kita selama bulan puasa ini
Mendapat keridhoan dari Allah, Sang Maha Kuasa.
Bulan ramadhan kali ini adalah bulan yang penuh keajaiban. Banyak kejadian yang membuat saya tetap tersadarkan bahwa tak ada nikmat Allah yang mampu saya dustakan. Salah satunya adalah, pagi-pagi sewaktu berangkat kuliah, seperti biasanya saya selalu berangkat saat waktu masuk kuliah sudah mepet, misalnya 5 menit sebelum masuk atau pas jam kuliah mulai saya baru berangkat, walau kosan saya terhitung cukup jauh dari tempat saya kuliah. Supaya tidak ekstrim terlambat saya selalu naik ojek untuk berangkat ke kampus. Pagi itu, seperti pagi biasanya, saya berangkat kuliah dengan ojek yang dikendarai oleh seorang bapak paruh baya. Beliau mengendarai ojeknya dengan kecepatan standar, 40 km/jam saya rasa. Di tengah perjalanan ada seekor anjing yang jaraknya tidak lebih dari setengah meter. Entah mengapa, saya mendapat firasat bahwa ”berbahaya jalan di dekat anjing ini”.
Tidak lama kemudian, Si anjing tiba-tiba berbelok sampai sangat dekat dengan ojek yang saya naiki, bapak pengendara ojek tiba-tiba saja mengerem motor yang beliau kendarai. Sedetik kemudian saya terlempar dari motor ke jalanan aspal kampus. Beberapa detik setelah jatuh, saya tak sadar apa yang terjadi, saya disadarkan oleh rasa sakit di rahang bawah sampai ke seluruh kepala dan bibir saya yang berdarah. Tiba-tiba saya jadi selebriti sesaat, banyak orang yang mengerumuni. Semua yang ada di TKP (tempat kejadian perkara) menyarankan saya untuk ke poliklinik dulu, selain saya tidak percaya pada dokter poliklinik IPB, pasien sakit apapun selalu diberi obat Amoxylin, hari itu saya sedang benar-benar ingin kuliah. Akhirnya, bapak pengendara ojek kalah dengan Ophie yang sedang keras kepala, beliau langsung mengantarkan saya ke fakultas.
Singkat cerita, sampai di depan ruang kelas dosen sudah mulai mengajar sekitar 15 menit yang lalu, dengan keberuntungan yang saya punya, saya masih diijinkan masuk. Di dalam kelas, kepala, rahang, tangan, dan kaki saya rasanya tidak dapat dideskripsikan. Namun, sekali lagi, saya orang yang beruntung, tidak ada satupun luka lecet, Alhamdulillah saya cuma lebam sedikit di rahang, dan kaki. Hari yang luar biasa bukan?
Di bulan ramadhan ini juga nilai semester pendek saya kemarin keluar. Kali ini saya merasakan bahwa tidak ada satupun perjuangan yang sia-sia untuk memperbaiki diri, Alhamdulillah nilainya seperti yang diharapkan. Percaya atau tidak, ini adalah nilai A pertama saya sejak masuk ke Jurusan. Semester 3 dan 4, bisa dibilang saya agak tidak memperdulikan kuliah saya. Banyak faktor yang menyebabkannya, mulai dari jurusan ini bukan yang saya inginkan, saya mendapatkan karena sebuah sistem pemilihan jurusan yang diciptakan IPB, sampai hal-hal lain yang lebih senang saya lakukan dibandingkan dengan berangkat kuliah. Butuh waktu untuk jatuh cinta pada jurusan ini, butuh waktu untuk menyadarkan diri bahwa dunia itu tidak akan pernah selalu seperti yang saya inginkan, butuh waktu untuk mencintai apa yang saya punya sebelum saya benar-benar kehilangan akibat kemahatololan saya.
Belum lama ini, saya menonton ulang film drama Jepang yang diangkat dari kisah nyata. Sekitar 1.5 tahun lalu saya menontonnya bersama teman seasrama. Judulnya mungkin sangat familiar, One Littre Of Tears. Ceritanya tentang perempuan berumur 15 tahun yang divonis spinocereberal degeneration disease (ataxia), yaitu penyakit degenaratif pada sel saraf otak kecil yang merupakan pusat koordinasi gerak sehingga penderita penyakit ini lama-kelamaan tidak akan bisa berjalan, berbicara, menggerakkan tangan, bahkan menelan makanan. Belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Salut saya dengan pemeran utamanya, perjuangannya untuk bertahan hidup sangat luar biasa, orang-orang yang disekitarnya pun sangat luar biasa. Apapun yang bisa dia lakukan mulai hilang satu persatu. Sampailah ia pada suatu keputusasaan, saat ia tinggal di rumah sakit dan ingin menelpon ibunya pun ia tidak lagi bisa. Namun, ibunya yang sangat luar biasa berkata, ”kamu masih bisa menulis, teman-teman yang seumuran kamu belum tentu bisa melakukannya, lihat sudah berapa banyak yang kamu tulis”. Akhirnya tokoh utama tersebut, setiap hari selalu menulis sampai ia benar-benar tidak bisa lagi menggerakkan tangannya. Tulisannya dimuat di sebuah buku yang sampai saat ini sudah terjual lebih dari 18.000.000 eksemplar di negeri asalnya. Tokoh utama film ini meninggal pada umur 25 tahun, 10 tahun setelah vonis penyakitnya. Banyak orang yang tergugah hatinya karena tulisan-tulisannya. Setelah saya menonton film ini, saya banyak berpikir tentang konsep diri saya, tujuan hidup saya, manfaat hidup saya, dan seluruh hal yang saya lakukan. Sama seperti tokoh utama film itu, untuk hidup di dunia ini saya diberi waktu yang terbatas, entah lebih lama entah lebih sebentar. Namun, dari segi penghargaan saya terhadap apa yang saya punya, saya jauh lebih buruk dibandingkan dengan tokoh utama film tersebut. Kadang belum sempat mengucapkan Alhamdulillah atas rejeki yang saya dapatkan, saya sudah mengeluh mengapa saya dapat ini? Mengapa saya tidak dapat itu? Dan hal-hal lain yang seharusnya tidak terlintas di benak saya ketika menerima sesuatu dari Allah.