Love The Life

Autistical Behaviour | October 24, 2008

Kali ini Saya ingin menulis hal-hal autis. yang mungkin sulit diterima akal sehat dan di luar nalar (hahaha…), tapi cerita-cerita berikut ini 100 % nyata tanpa rekayasa, silahkan dibaca.

Di siang hari bolong masa SMP, Saya yang masih polos sedang tidak ada kerjaan. Karena bosan, Saya mencet-mencet sembarang nomor telpn, ketika diangkat oleh yang punya rumah langsung Saya tutup. Begitu seterusnya sampai berkali-kali. Tiba-tiba (maaf) Saya kebelet kentut, dari situ Saya mendapat ilham. Saya pencet nomor telpn 262513 dan voila! Ada orang yang mengangkat. Bersamaan dengan terdengarnya suara halo, Saya kentut sekeras-kerasnya. Selesai kentut, sambungan telponnya langsung Saya tutup. Saya tersenyum puas.

Waktu SMA, Saya punya hobi yang merugikan, yaitu telpon sampai berjam-jam, sebenarnya yang dibicarakan tidak begitu penting, tapi yang namanya hobi tetap saja berjalan walau harus disemprot Bapak-Ibu Saya tiap awal bulan. Suatu hari Saya sedang menelpon teman Saya, di tengah obrolan Saya berpikir untuk mengetes kabel roll di sebelah Saya nyetrum kalau dipegang, Saya coba masukkan 2 jari Saya ke dalam lubang kabel roll. Ternyata nyetrum sodara-sodara!. Tangan Saya nempel, susah dicabut, baru setelah beberapa detik kesetrum tangan Saya bias ditarik. Akhirnya tidak sampai 15 menit Saya menyudahi obrolan Saya lewat telpon karena Saya lemas luar biasa pasca kesetrum. Efek dari kesetrum itu, mengakibatkan tangan Saya gemetaran selama 1 jam kemudian.

Sampai awal tingkat 1, penyakit insomnia (susah tidur malam) Saya masih suka kambuh. Hampir jam 12 malam, Saya sama sekali belum merasa ngantuk. Akhirnya, Saya putuskan keluar kamar karena tahu Azka belum tidur. Dia sedang menggoreskan kapur ajaib di pintu kamarnya yang kadang terkenal sebagai sarang semut dan rayap. Tiba-tiba, seekor kecoa yang sedang sial lewat tepat jiwa ilmuwan Saya bangkit. Bersama dengan Azka, Saya elingkari lantai di sekitar kecoa sial itu, mulai dari lingkaran kecil sampai lingkaran besar. Ternyata kecoa yang hanya sampai taraf teller itu berhasil kabur. Merasa gagal menangkap kecoa, Saya mencoba mengembangkan bakat menggambar Saya dengan media pintu kamar dan kapur ajaib. Pesan sponsor : Lebih baik beli obat serangga semprot dibandingkan kapur ajaib. Belum lama ini Saya menyemprotkan obat serangga pada kecoa, tidak sampai 1 menit kemudian kecoanya langsung mati.

Suatu hari jumat di semester 4 kuliah, Saya diajak makan siang oleh Bapak tercinta di sebuah restoran khas Sunda yang baru buka di sekitar jalan Baru Bogor. Dindingnya terbuat dari pilinan bambuyang seharusnya menciptakan hawa sejuk, Sayangnya hawa di restoran tersebut masih tetap panas. Tapi sebenarnya bukan itu yang mau Saya ceritakan hwahaha…..Jadi begini, karena melihat sekotak tisu dan lilin di atas meja, jiwa ilmuwan Saya terpanggil untuk melakukan eksperimen kecil (untuk kesekian kalinya), langsung dan mudah dilakukan. Saya beri judul eksperimen tersebut dengan “Uji Tingkat Nyala Api Pada Hasil Olahan Kayu Berkapiler” (keren kan judulnya?? Hahaha….). metodenya begini, ambil satu lembar tisu, kemudian dibakar di atas lilin yang meyala dan diamati tingkat nyala api yang dihasilkan. Hasilnya? Di luar dugaan, Saya kira apinya kecil, ternyata jauh lebih besar dari yang Saya kira. Karena takut tangan Saya terbakar, akhirnya tisu yang terbakar itu Saya jatuhkan di atas meja. Dapat diprediksi bahwa hasil eksperimen ini mengakibatkan taplak meja restoran baru itu bolong, serta Saya berhasil mendapat nobel berupa omelan dan mata yang melotot dari Bapak Saya (Dalam hati Bapak : Ya Allah! Kok punya anak perempuan gini-gini amat ya?!). Reaksi Saya? Cukup bersikap Cool disertai dengan cengiran.

Semester 4 kuliah, saya diberikan tugas praktikum untuk memelihara puyuh selama 1 bulan. Sistem pemberian pakannya adalah 2 kali sehari dengan petugas piket yang bergiliran, 2 orang per hari. Puyuh adalah ternak manja dan mudah stress, agar puyuh dapat menghasilkan telur setiap hari dibutuhkan suasana tenang, warna ruangan yang tidak mencolok, termasuk baju petugas piketnya serta banyak persyaratan lainnya. Hari itu tiba giliran Saya piket, Saya sedang benar-benar tidak niat piket dan kebetulan saya mengenakan jilbab merah, rok merah, dan baju bergaris-garis merah. Menyimpan dendam pada puyuh karena piket yang telah dibuatnya, sepanjang piket saya mengagetkan puyuh di seluruh kandang, sambil bernyanyi-nyanyi, teman satu kelas saya yang sepiket hari itu hanya bergeleng-geleng kepala melihat kelakuan saya. Selang 2 minggu kemudian, hasil pemeliharaan puyuh sekelas mendapat komentar tak enak dari dosen, “ Ada apa dengan puyuh kelas kalian? Kenapa puyuh yang bertelur hanya minggu pertama dan kedua?. Tidak ada yang berani menjawab, untuk menyelamatkan hidup, saya memasang tampang tak tau apa-apa, padahal dalam hati saya bahagia, perlakuan saya membuat puyuh stress dan tidak bertelur berhasil dengan gemilang.

Pesan sponsor : bagi yang ingin berguru tentang hal-hal autis silahkan hubungi YM saya hahaha….


Posted in Uncategorized

2 Comments »

  1. seriyus. aku sampe ngakak terkeklek-eklek (apa coba) ngebaca tentang nelpon orang cuma biar tu orang denger suara kentutmu!!!

    gebleeeeek. aku kok belom tau ya cerita ini? huahahahaha.

    Comment by azkaa,, — October 24, 2008 @ 3:49 pm

  2. @Azka,,:
    Masa sih belom pernah denger padahal aku sudah cerita kemana2
    ato aku lupa ya cerita ke kamu?

    Comment by fliesfreely — October 26, 2008 @ 12:10 pm


Say something? Comments RSS TrackBack URI