Lelaki itu masih sangat kucinta
Sorot matanya begitu tegas berucap
“Aku sayang padamu”
Lelaki itu tak lagi sekokoh dahulu
Putih rambutnya bercerita tentang usia
”Kamu tak lagi muda manusia”
Dalam heningnya malam
Lelaki itu
Berkata dengan lantangnya
”Aku masih kuat menantang dunia”
Lelaki itu jiwanya masih selembut sapuan angin
Dalam lara ia bahagia
Dalam tangis ia tertawa
Ada ingin kadang patah
Ada mimpi kadang terbungkam
Lelaki itu, ayahku
Ibu….
Ada harap dalam doamu
Menatap nyata dalam mataku
Ibu….
Akan jadi durhaka aku
Jika tak kau temukan
Nyata dalam ragaku
Ibu…
Jiwa ini mencintaimu sangat
Raga ini rindu belaimu sangat
Ibu….
Dan surgaku masih
Di bawah tahta kakimu
“Ya ampun!!! Ophie kemana aja sih kamu?”
”Ophie dari tadi ga keliatan, ga kuliah ya?”
”Ophie, kenapa sih ga kuliah??
”Ophie, kamu ga kuliah ya tadi? Berdosa lho mengkhinati amanah orang tua”
”Ophie, kamu itu kemana aja sih?? Dari tadi ga keliatan. Kita di sini diamanahi orang tua buat kuliah, bukan buat main-main”
Serangan kalimat-kalimat itu sering sekali mampir ke gendang telinga saya. Mungkin teman-teman saya juga bosan harus melontarkan pertanyaan yang sama hampir tiap hari tapi jawabannya paling jauh cuma 3 atau empat kata. Di sini akan saya jelaskan ke mana saja saya selama ini jika saya jadi invisible girl kala kuliah mulai.
Semester 1
Intensitas bolos masih dalam taraf sedang, namun meningkat secara perlahan-lahan ketika semester 1 mencapai batas akhirnya. Paling parah mungkin olahraga, dari 14 kali pertemuan cuma 9 kali saya hadir di kuliah yang sebenarnya praktikum olehraga. Alasannya? Macam-macam, mulai dari hujan becek nggak ada ojek ga ada payung jadi deh ujung-ujungnya saya pamit dari kuliah. Alasan selanjutnya, karena menghemat tenaga berhubung waktu itu lagi puasa jadi sepertinya saya harus say good bye dulu sama olahraga. Alasan ketiga, menemani Azka kuliah fisika seingat saya hari itu sindrom ”nobody” dari seorang Azka Madihah lagi kambuh.
Bolos di mata kuliah lain? Ya adalah dari urutan intensitas antara lain sebagai berikut bahasa Inggris>PPKn>Fisika>Sosiologi Umum>Pengantar Ilmu Pertanian>Pengantar Matematika. Semua mata kuliah yang saya sebutkan tadi saya pernah ngambil jatah bahkan lebih dari jatah, kecuali pengantar matematika, dengan ajaib daftar hadir saya benar-benar penuh secara murni.
Semester 2
Intensitas bolos semakin meningkat dengan adanya faktor paling merusak pada mahasiswa, ”malas kuliah akut”. Kalkulus susah menghitung berapa kali bolos. Ekonomi umum tak jauh beda, bahasa Indonesia pun mengikuti kedua rekan seperjuangannya. Untuk mata kuliah lain sepertinya tak jauh berbeda nasibnya. Bosan mungkin teman sekelas sekaligus ibu asuh dan teman selorong saya, Nobon, yang setia menyinggahi kamar saya untuk menarik saya kuliah. Tak jarang nobon mengomel karena tak berhasil mengajak saya ke jalan yang benar. Meski IP demikian standarnya saya berhasil lulus seluruh mata kuliah kecuali kalkulus. Namun, saya harus ikhlas menerima pilihan jurusan yang sebelumnya hanya sedetik terpikirkan oleh saya untuk terjun ke dalamnya.
Semester 3
Semua orang berharap saya akan lebih rajin kuliah daripada semester-semester sebelumnya, tetapi ternyata semester tiga adalah semester paling parah dalam riwayat menghilangnya saya dari kelas. Alasannya jelas lebih beragam dari semester-semester sebelumnya. Pernah suatu sore saya pergi berdua dengan Azka ke puncak sampai paginya saya melewatkan kuliah klimatologi untuk pertama kalinya. Malam hari saya menerima sms, bahwa lelaki tercinta saya, Papa, akan datang mengunjungi saya di bogor (waktu itu ayah saya masih bekerja di Banjarmasin), dengan keikhlasan hati saya bolos kuliah siangnya. Alasan lain karena cucian saya ada 4 ember yang menanti untuk dicuci jadilah saya memutuskan untuk tidak kuliah dulu hari ini. Pertengahan semester 3 saya sering bolos untuk mengerjakan poposal program kreativitas mahasiswa bidang penelitian, bahan pustakanya masih sulit dicari baik di internet maupun di perpustakaan, masih dengan segala keikhlasan hati saya bolos kuliah. Dan dengan segala korbanan jatah kuliah akhirnya proposal saya didanai. Selain itu saya juga bolos karena dianugrahi jadi editor tugas kelompok, sebenarnya kalau langsung dikerjakan malam itu juga tak akan ada daftar hadir yang kosong hari itu. Tapi ternyata kelopak mata tak juga dapat berkompromi dengan realita, akhirnya lelap jua datang menjemput. Paginya, untuk menyelesaikan tugas tersebut saya memutuskan bolos kuliah.
Semester 4
Lebih jarang bolos daripada semester 3 tapi tetap saja beberapa mata kuliah tak bisa saya ambil lagi jatah bolosnya. Semester 4 dengan sedikit kelimpungan mengerjakan laporan praktikum, revisi proposal, pembuatan produk untuk proposal yang satu lagi, rapat yang hampir harian, konsultasi dengan dosen, pencarian pustaka, buat artikel blog dan sisanya saya bolos karena serangan sindrom ”nobody”.
Mungkin seluruh alasan saya di luar batas nalar alasan yang bisa diterima orang biasa. Bisa dianggap ini adalah salah satu kekurangan akut saya karena tak bisa mengatur waktu. Jangan ditiru apalagi dipraktekkan secara kontinu, hasilnya mungkin akan membuat orang yang meniru atau mempraktekkan akan terkena sindrom ”nobody”.