Love The Life

Amazon Bagian I | Apr 04th 2008

Tahun pertama di IPB setiap mahasiswa baru wajib tinggal di asrama yang telah disediakan oleh IPB. Tidak hanya bangunannya, program pengembangan mahasiswanya pun sudah disediakan di dalamnya. Tahun kedua dan selanjutnya mahasiswa dipersilahkan keluar dari asrama untuk diregenerasi dengan para mahasiswa setelahnya. Banyak pilihan yang disediakan penduduk sekitar untuk mahasiswa yang tidak tinggal di asrama baik itu mahasiswa tingkat 2 ke atas ataupun mahasiswa Strata-2, ada yang berupa kontrakan ada juga yang berupa kos. Saya dan beberapa teman memilih tinggal di kontrakan dibanding tinggal di kosan. Alasannya? Ya supaya tidak ada yang protes ataupun terganggu ketika kami melakukan kreativitas kami yang kadang tidak biasa. Contoh:
1. Main teater monolog menjelang tengah malam
2. Nyiram orang jam 12 malam
3. Amazon’ers in Concert
4. Nonton film sampe tengah malam sambil menampilkan reaksi khas dari masing-masing orang
Rumah kontrakan kami sederhana saja, modelnya sangat jaman dulu dengan warna cat merah yang tak teridentifikasi merah apa. Pertama kali melihat rumah ini saya teringat rumah nenek di kampung ibu saya. Halamannya cukup luas, tanpa anyelir tanpa melati hanya pohon jengkol, pohon bambu juga pohon kelapa yang tumbuh di halaman. Di depan kontrakan kami, terhampar kebun singkong dan jagung yang berlatar belakang asrama kami waktu tingkat satu. Jika pohon jengkol di depan rumah sedang berbuah wanginya menyebar ke seantero rumah apalagi ketika hujan sedang turun makin semerbak rasanya. Suasana kontrakan kami tenang, asri, sejuk. Jika libur rumah ini selalu meniupkan hawa-hawa ngantuk pada penghuninya. Masalah fasilitas, bisa dibilang lengkap walaupun ada embel-embel jadulnya. Ada tv yang kadang-kadang berubah jadi radio binti tidak ada gambarnya cuma ada suaranya. Mungkin bagi yang tidak biasa, tv kami agak menyeramkan, kadang bisa nyala atau mati sendiri tapi kalau sudah biasa pasti akan paham dengan penyakit tua tv kami. Selain tv, ada kompor yang sudah tumbuh karat dimana-mana. Semua barang lama kecuali kulkas toshiba glacio kapasitas 180 L. Kamar tidur ada 5 sedang kamar mandi cuma ada dua untuk 8 orang penghuni, satu ada di dalam rumah, satu di luar rumah. Berhubung tidak ada yang senang melakukan kegiatan kamar mandi di luar, bisa dibayangkan kehebohan yang terjadi jika dalam hari yang sama kami masuk pagi pada jam yang sama. Atau ketika ada yang ingin buang hajat namun sialnya masih ada orang di kamar mandi. Tapi sejauh ini belum ada yang bersusah hati karena kamar mandi, kami menganggap semua itu sebagai seni hidup yang mungkin bisa jadi cerita buat anak cucu kami. Soal amazon sebagai nama kontrakan, itu sudah warisan dari penghuni terdahulu. Rencana awal kami mau mengganti namanya tapi setelah dipikir-pikir takutnya tukang galon sama tukang gas yang biasanya mengantar galon dan gas pesanan tidak tahu tempatnya karena namanya berubah. Akhirnya sesuai dengan kesepakatan, nama kontrakan kami tidak jadi diganti.


Posted in Uncategorized

No Comments Yet »

Say something?Comments RSS TrackBack URI