Bagaimana jadinya jika hidup diserahkan pada keadaan? Alirnya terserah keadaan mau dibawa kemana, kata orang biarkan saja seperti air mengalir, ke hulu, ke hilir, lalu lautan, atau menguap saja tersengat matahari?. Hanya sebuah pilihan di tengah pilihan. Atau lebih memilih hidup seperti tentara di tengah perang, tak ada kompromi pada seluruh titik lemah, mengubah tantangan & hambatan menjadi kesempatan, bertahan demi negeri impian timbunan harapan. Tak ada bedanya, itupun masih variasi sebuah pilihan. Tapi bukankah sebuah mutiara tak terbuat dari mutiara kemudahan? Ia selalu berkata pada luasnya lautan “menyaji keindahan butuh pengorbanan, tuan. Indahku tak tersaji dalam sekedip matamu memandangku”. Akhirnya Kekasihku berkata ” Sesungguhnya Aku tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. Dan Ia pun memberikan jawaban atas pilihan hidup yang harus dipilih.
Hidup ini perjuangan kawan, maka wajar jika keringat, airmata, bahkan darah tertetes untuk tetap hidup
Pertama-tama saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitrri 1430 H Mohon maaf lahir dan batin, semoga Allah menerima amalan ibadah yang dilakukan selama bulan ramadhan. Setelah sekian lama blog saya tidak ada tulisan baru, kali ini saya mencoba untuk menulis lagi. Jujur sekarang terasa lebih susah untuk menulis lagi dibandingkan dulu saat lebih banyak menulis.
Kali ini saya mau melaporkan hal-hal yang saya lakukan selama tahun 2009 yang dalam hitungan 3 bulan dari sekarang akan berakhir. Dalam hal akademik, Insya Allah bulan November nanti saya akan memulai upaya meluluskan diri dari IPB a.k.a penelitian skripsi, seminar, sidang dan kawan-kawannya. Mohon doanya dari teman-teman sekalian
Untuk urusan organisasi tahun ini saya lebih memilih jadi anggota dewan dibanding seorang eksekutor, pekerjaan yang menarik, team yang unik, besar harapan saya semoga bisa bermanfaat karena sepertinya saya memang tidak bisa lepas dari organisasi mahasiswa.
Akhirnya setelah kemalingan 5 kali, saya pindah kosan. Waktu terakhir kali si maling berhasil membobol kamar saya, dengan sukses dia membawa handphone yang baru satu 2 hari saya pegang. Kali ini kosan saya lebih dekat, lebih nyaman, dan semoga lebih berkah.
Tahun ini berpetualang tampaknya terhambat untuk sering dilakukan, sampai hari ini baru berhasil ke kediri (pertama kalinya) sendirian ke rumah seorang senior di kampus dengan hanya berbekal sms dan telpon, keliling-keliling malioboro jalan kaki, sama keliling jogja naik bus yang ujung-ujungnya berhenti di terminal. Untuk ke Garut, Bromo, Belitong, Papua, Gunung Pangrango, dan tempat-tempat lain di Indonesia entah kapan bisa kunjungi.
Secara umum beginilah saya tahun ini. Menurut saya banyak hal menarik, tapi belum seluruhnya terekam dalam tulisan. Niat menulis selalu ada, nyatanya dalam pelaksanaannya lebih sering terhambat dibanding terlaksana hehe….
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin menyampaikan turut berbahagia atas akad nikah Mbak Mitha dan Kak Ami yang akan dilaksanakan tanggal 18 Oktober 2009 di Bekasi. Semoga pernikahan mbak mitha yang kusayangi bisa membawa keberkahan bagi sekitarnya (barakallah mbak mit), dan menyepuh iman agar tidak lagi sabit.
Satu setengah jam saya menatap komputer akhirnya cuma ini yang bisa saya tulis, Insya Allah akan ada tulisan-tulisan lain yang menyusul, secepatnya. Semoga bermanfaat.
Setelah melewati serangkaian proses diplomasi yang luar biasa, Ibu saya tercinta berhasil mengalahkan tembok kekuasaan Bapak saya. Akhirnya Ibu yang luar biasa ini bisa jalan-jalan ke jakarta, bukan berdiam di Banjarmasin. Sehari sebelum invasi Ibu ke rumah Cibubur, jadilah saya dan adek berjibaku membersihkan rumah yang cuma seminggu sekali dikunjungi ini. Ada 3 kamar mandi yang harus dibersihkan, seluruh ruangan lantai atas dan lantai bawah beruntung rumah saya tidak ada perabotannya jadi kali ini acara bersih-bersihnya tidak pakai ngelap perabot.
Mission cleared
Ibu datang bersama Wak (kakak Ibu dari Medan), adek laki-laki saya, dan seorang sepupu dari Banjarmasin. Saya tidak heran kalau Ibu datang membawa keberisikan, belum apa-apa sudah komentar beres-beresnya kurang rap, siapkan ini-itu untuk makan siang Bapak, beresin koper sama bawaan, entah yang mana dulu yang harus dikerjakan. Rasanya memang sangat terjajah dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi mau bagaimana lagi inilah yang saya rindukan dari seorang Ibu. Menjajah dengan cinta istilah saya. Semua rasa terjajah terbayar dengan senyum khas Ibu, masakan Ibu yang tiada duanya, dan kecerewetan yang dirindukan sekaligus dihindari. Ibu saya memang tiada duanya.
Kalau Kakek dan Nenek saya bisa awet sampai ujung hayat, sepertinya itu jualah yang akan terjadi pada Bapak dan Ibu saya. Ibu dan Bapak adalah pasangan yang unik menurut saya. Ibu tak jarang mengeluh soal Bapak padaku begitu juga Bapak, tapi ketika jauh tak kurang dari 3 kali sehari saling menelpon. Pernah suatu kali Bapak pergi ke Malaysia seminggu, tagihan handphone Bapak melonjak sampai menyentuh angka 4 dengan 6 buntut nol di belakangnya.